Selasa, 26 Juni 2012

Peranan Perguruan Tinggi dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia

Peranan Perguruan Tinggi dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia yang handal di bidang Industri dan Konstruksi Baja Indonesia oleh Ir. Kusumo Dradjad S, MSi


Menuntut ilmu tanpa mempraktekannya, menjadikan ilmu orang tersebut tidak berisi demikian pula bekerja tanpa dilandasi ilmu akan menghasilkan pekerjaan tidak baik.


Filsafat dari KHD ini menjadikan kita sadar bahwa belajar di perguruan tinggi tidak hanya belajar keilmuanya saja saat di dalam kampus, namun harus disertai belajar praktek dan aplikasinya diluar kampus, tentu saja harus melibatkan pihak industri, asosiasi, dan stake holder lainnya agar ilmu yang dituntut menjadi lebih sempurna dan berdaya guna bagi kehidupan manusia. Berbicara mengenai perguruan tinggi berarti membicarakan tentang pendidikan, seberapa penting pendidikan itu di mata bangsa dan Negara. Pendidikan itu adalah paspor untuk memasuki masa depan. Suatu bangsa dan negara yang tidak peduli dengan pendidikan, maka dimasa datang bangsa tersebut akan tergilas dan tertindas oleh bangsa dan negara lain yang telah maju.


Negara super power banyak memiliki perguruan tinggi kelas dunia dengan berbagai program studi yang dimiliki seperti Amerika, Inggris, Jepang dan lainnya. Mereka menjadi besar, kuat dan maju karena di negaranya banyak orang pintar. Bisnis baru dan perusahaan baru setiap hari banyak bermunculan di negara maju, mereka tentunya akan memanfaatkan peluang aturan yang dibuat dalam golbalisasi saat ini. Sehingga sangat dimungkinkan mereka berbisnis dengan mengusung SDM dan teknologinya di Indonesia, sementara kita sebagai tuan rumah hanya sebagai penonton. Hal seperti ini akan dapat terjadi dimasa kini apabila pendidikan di Indonesia terabaikan. Masa globalisasi telah bergulir dan teknologi telah semakin canggih, saat ini sudah tidak lagi ada hambatan tentang jarak dan waktu. Belajar sekarang ini tidak harus didalam kampus dan perpustakaan, namun orang saat ini dapat melakukan pengembangan diri cukup dalam suatu ruangan yang dilengkapi dengan seperangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. Bahkan tidak sekedar mengembangkan diri saja namun orang dapat mempunyai usaha, berbisnis apa saja melalui ruangan tersebut. Teknologi Informasi (TI) sedemikian cepat perkembangannya sehingga turut serta dalam merevolusi sistem pendidikan, yang menjadi pertanyaan, siapkah masyarakat kita “Masayarakat Baja Indonesia” menghadapi keadaan seperti ini? Namun demikian tidak usah berkecil hati, masyarakat kita telah ada usaha-usaha mengatasi hal tersebut seperti yang dilakukan oleh beberapa perusahaan, industri, asosiasi dan instansi pemerintah di dalam memanfaatkan TI, meskipun sifatnya masih untuk kebutuhan/ kepentingan masing-masing. Apabila diantara mereka dapat dipadukan tentunya akan menjadi suatu kekuatan yang sangat besar. Sebagai contoh kerja sama yang dilakukan sebuah perusahaan dibidang teknologi informasi baja di Indonesia, sebut saja SteelIndonesia.com dengan IISA, dan Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) serta Perguruan Tinggi, disana orang mendapatkan informasi baja, belajar baja, mengembangkan baja, bahkan sampai berbisnis baja cukup didepan komputer. Hal ini sebagai perwujudan link and match untuk menciptakan suatu kekuatan yang besar di Indonesia sehingga “Bangkit Baja Indonesia“ dapat terwujud dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat di bumi pertiwi ini.



Kaitannya Peranan Perguruan Tinggi dengan Industri Baja


Kaitannya peranan perguruan tinggi di dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM) terhadap kebutuhan industri telah tertuang di program rencana strategis (Renstra) Departemen Pendidikan Nasional. Pada Renstra dijelaskan bahwa Dalam rencana pembangunan jangka panjang Departemen Pendidikan Nasional 2005-2025, ada empat tema strategis pembangunan pendidikan, yaitu:
Peningkatan kapasitas dan modernisasi,
Penguatan pelayanan,
Daya saing regional,
Daya saing internasional.


Setiap tema strategis pembangunan pendidikan jangka panjang di atas, akan diturunkan dalam program kerja departemen sesuai kebijakan pembangunan jangka menengah yang menekankan pada 3 tantangan utama, yaitu:
Pemerataan dan perluasan akses
Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing;
Peningkatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik.


Memperhatikan Renstra yang dibuat oleh oleh Departemen Pendidikan Nasional tentang daya saing regional dan internasional, sangat sedikit Perguruan Tinggi memiliki program studi di bidang baja umumnya dikenal dengan jurusan metalurgi dan jurusan mesin dan perguruan tinggi lainnya hanya diberikan berupa mata kuliah, hal ini tetunya sangat memprihatinkan sekali. Bagaimana daya saing baja Indonesia dapat berbicara di tingkat regional dan nasional apabila SDM nya tidak menguasai bidang baja. Berbicara tentang pendidikan baja sangat luas sekali.


Semestinya Universitas, Institut, politeknik dan perguruan tinggi lainnya sudah saatnya untuk membuka Program Studi Baja. Mengapa demikian? Karena baja merupakan industri strategis yang dimiliki oleh bangsa dan negara di dunia. Indonesia memiliki tambang biji besi, mangaan dan sebagainya yang sangat besar dapat diolah menjadi baja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan kepentingan negara serta bangsa seperti:
Perkakas rumah
Peralatan tangan
Mesin Produksi/ Industri
Pendidikan
Peralatan laboraturium
Konstruksi bangunan
Alat Transportasi
Peralatan perang
Peralatan Kesehatan/ Rumah Sakit


melihat itu tentunya sangat banyak SDM profesional bidang baja yang dibutuhkan di Negara Indonesia ini. Mengapa demikian, karena baja merupakan matrial olahan dari hulu sampai hilir yaitu mulai pekerjaan pengolahan biji besi sampai terbentuk barang jadi yang dibutuhkan, semuanya itu dapat dibuat di negara kita ini. Apabila melihat contoh di atas, dapat diketahui betapa pentingnya peranan perguruan tinggi di dalam mencetak manusia yang menguasai dan ahli di berbagai bidang ilmu dan keahlian tentang baja. Untuk diketahui bahwa negara-negara maju memiliki parameter-parameter antara lain:
Banyaknya jumlah hak paten yang dimiliki
Banyaknya Jumlah perguruan tinggi kelas dunia
Besarnya Anggaran pendidikan dan penelitian setiap tahunnya
Besarnya komsumsi baja per kapita di negara tersebut.


Dengan mengetahui parameter tsb di atas peranan Perguruan Tinggi bersama –sama Departemen Perindustrian serta stake holder terkait lainnya dapat membuat program-program yang bersinergi, untuk berkarya nyata bagi bangsa dan negara dalam memajukan bangsa Indonesia sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat dan dapat sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia ini.



Jalur dan Jenjang pendidikan yang terkait dengan bidang baja.


Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.


Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


a. Jalur Pendidikan
Bidang ketrampilan dan keahlian baja semestinya dapat ditempuh melalui jalur pendidikan:
pendidikan formal,
nonformal, dan
informal.


Penjelasan dari masing-masing bidang seperti diuraikan di bawah ini.


1. Jalur Pendidikan Formal


Untuk pendidikan formal bidang baja tentunya dapat dimulai dari jenjang:


1) Pendidikan menengah yaitu Sekolah Menengah Kejuruan:
SMK Jurusan Mesin,
SMK Perkapalan,
SMK Otomotif
SMK Bangunan
Dan SMK lainnya yang berkosentrasi pada bidang baja


2) Pendidikan tinggi.
Politeknik dan Diploma: D1, D2, D3 dan D4 dengan jurusan yang terkait dengan pekerjaan baja. Seperti: Jurusan Teknik Sipil, Jurusan Mesin, Jurusan Perkapalan dsb.
Politeknik dan Diploma khusus bidang studi industri baja (berupa usulan) misalnya: Jurusan Pengolahan Biji Besi, Jurusan Konstruksi Baja, Jurusan Bisnis Baja dsb.
Pendidikan program vokasional jalur kedinasan bidang baja
Universitas, institut dan Sekolah Tinggi: S1, S2 dan S3 dengan jurusan:
Fakultas Teknik: Jurusan Metalurgi, Jurusan Mesin Industri, Jurusan Teknik Sipil
Fakultas MIPA: Jurusan Matrial, dsb


Pada Jalur Perguruan tinggi dikewajibkan menyelenggarakan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.


Peranan Perguruan Tinggi dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia Di dalam penyelenggaraan pendidikan jalur formal, Pakar Pendidikan Politeknik (Ir.Hadiwaratama, MSc.E) di Indonesia , telah membuat konsep konsentrasi untuk setiap jenis jalur pendidikan. Dari konsep tersebut sangat cocok apabila pengembangan pendidikan bidang baja dikembangkan di Indonesia.


Jalur akademik mulai dari Strata ! sampai Strata III berkosentrasi melakukan resarch dan pengembangan bidang baja dari hulu sampai hilir, sedangkan politeknik beserta Diploma lainnya melakukan rekayasa engeneering & Development serta mengembangkan desain. Selain hal tersebut politeknik dapat mengerjakan manufacturing production & process .


Dengan melakukan kosentrasi pendidikan bidang baja di perguruan tinggi seperti di atas, peranan perguruan tinggi akan sangat terlihat di dalam penyediaan SDM bidang baja yang ahli dan profesional.


Melaksanakan pendidikan bidang baja diperlukan comitment dari semua pihak dan unsur, konsep sekolah baja apabila ingin dikembangkan di Indonesia tentunya diperlukan benchmarkingpada negara industri baja yang telah maju dan diperbanyak atau di buka jalur pendidikan politeknik, diploma maupun sekolah kejuruan.


Perbedaan utama antara pendidikan akademik dengan politeknik, diploma dan vokasional terletak dalam keahlian yang dicapai lulusannya. Lulusan pendidikan akademik lebih berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan secara teori, sedangkan lulusan pendidikan politeknik, diploma dan vokasional lebih pada penguasaan praktek dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.


2. Pendidikan Nonformal


Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan bidang baja dari hulu sampai hilir yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.


Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional dibidang baja.
Pendidikan nonformal meliputi:
lembaga kursus,
lembaga pelatihan,
kelompok belajar,
pusat kegiatan belajar masyarakat


Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan, julur pendidikan ini dapat digunakan untuk mendapatkan sertifikasi profesi ketrampilan dan keahlian bidang baja.


3. Pendidikan Informal


Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.


Inti dari peranan perguruan tinggi dalam meningkatkan SDM dibidang industri baja dan konstruksi baja adalah bagaimana mempersiapkan SDM yang memiliki kecakapan hidup, dapat mengolah sumber alam dibidang baja dari hulu sampai hilir disertai kemampuan wirausaha.


Konsepnya Brolin (1989) dalam mengartikan kecakapan hidup yaitu bahwa kecakapan hidup merupakan interaksi dari berbagai pengetahuan dan kecakapan sehingga seseorang mampu hidup mandiri. Pengertian kecakapan hidup tidak semata-mata memiliki kemampuan tertentu (vokational job), namun juga memiliki kemampuan dasar pendukung secara fungsional seperti: membaca, menulis dan berhitung, merumuskan dan memecahkan masalah, mengelola sumber daya ,bekerja dalam kelompok, dan menggunakan teknologi. Sedangkan Barrie Hopson dan Scally (1981) mengemukakan bahwa kecakapan hidup merupakan pengembangan diri untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan berhubungan baik secara individu, kelompok maupun melalui sistem dalam menghadapi situasi tertentu.


Dari pengertian di atas, dapat di artikan bahwa pendidikan kecakapan hidup di bidang baja merupakan kecakapan yang didasari dengan matrial baja yang dilakukan secara praktis dapat membekali peserta didik dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Kecakapan itu menyangkut aspek pengetahuan teknologi baja, sikap yang didalamnya termasuk fisik dan mental, serta kecakapan kejuruan, kecakapan berwirausaha yang berkaitan dengan pengembangan akhlak peserta didik sehingga mampu menghadapi tuntutan dan tantangan hidup dalam kehidupan.


Di sejumlah negara maju, meyakini bahwa program jalur pendidikan seperti politeknik, diploma dan vokasi merupakan andalan. Artinya, menjadi tumpuan bagi negara tersebut itu dalam membangun sistem kerja yang dapat sukses memasuki persaingan global. Dengan program berbasis ketrampilan kerja dan vokasi, banyak negara berhasil membangun ekonomi mereka dan lapangan kerja banyak diisi tenaga-tenaga vokasi berilmu pengetahuan.



Sertifikasi dan Asosiasi Profesi .


Peningkatan SDM di Indonesia tidak hanya tanggung jawab Departemen Pendidikan saja namun menjadi tanggung jawab dunia industri dan asosiasi profesi. Masa kini orang bekerja tidak cukup dengan pengakuan lulus perguruan tinggi berupa ijasah, namun lulusan perguruan tinggi masih harus diukur tingkat kopetensinya, dinyatakan dengan sertifikat keahlian/ ketrampilan yang dikelurakan oleh badan yang ditunjuk oleh pemerintah dan asosiasi profesi sebagai pihak penyelenggara.


Di dalam penyediaan SDM yang berkualitas dan efisien pada masa globalisasi ini menjadi sangat penting bagi negara Indonesia, mengapa demikian, karena adanya kesepakatan antara negara-negara dalam kerangka General Agreement on Trade in Services (GATS). Dengan GATS negara-negara dapat melakukan negosiasi-negoisiasi dalam membuka pasar termasuk hal ini adalah bidang jasa, oleh karena itu apabila Sumber Daya Manusia (SDM) bidang jasa di Indonesia tidak meningkatkan kualitasnya akan kalah bersaing dengan SDM dari negara lain yang telah memiliki kompetensi standar (bersertifikat keahlian/ ketrampilan) Seperti bidang jasa konstruksi merupakan lingkup pekerjaan yang mempunyai karakteristik tersendiri, bidang ini menuntut SDM yang memiliki inovasi tinggi, penggunaan teknologi canggih yang terus berkembang, penggunaan sistem pengelolaan manajemen yang baik dan dapat mengendalikan resiko bahaya dan kecelakaan. Untuk mendapatkan hasil kerja yang bermutu, efisien tanpa ada kecelakaan tentunya dibutuhkan SDM yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi.


Cara di dalam mendapatkan SDM yang berkualitas dan standar menurut kompetensi profesi dalam sektor jasa konstruksi maka dibutuhkan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong stakeholder, perguruan tinggi, asosiasi profesi, LPJK, BNSP serta pemegang sertifikat keahlian (SKA) dan sertifikat ketrampilan (SKT) selalu mengembangkan diri mengikuti Mutual Recognation Agreements (MRA) yang diwujudkan dalam bentuk ASEAN Chater Profesional Engineers (ACPE) ataupun badan internasional yang lain.


Pada Januari 2010 ASEAN tahun depan ini, termasuk Indonesia, telah sepakat memberlakukan Liberalisasi ASEAN bidang Jasa, termasuk bidang Jasa konstruksi dan Penerbangan. Di bidang jasa konstruksi ini berarti bahwa perusahaan ASEAN maupun tenaga kerja ASEAN diperbolehkan bekerja dimana saja di ASEAN asal mempunyai sertifikat keahlian/ ketrampil.


Indonesia mengharapkan bahwa dengan diberlakukannya MRA di ASEAN ini, maka tenaga kerja jasa konstruksi Indonesia yang trampil bisa mendapat pekerjaan di negara ASEAN lainnya. Akan tetapi sebaliknya juga berlaku, yaitu bahwa pekerja jasa konstruksi ASEAN lainnya juga dibolehkan bekerja di Indonesia asal mempunyai sertifikat keahlian dan ketrampilan yang standar.


Pekerja jasa konstruksi tingkat pekerjaan dari level bawah sampai level manager berbagai bidang produksi, pemasaran dan penjualan, merupakan kancah di mana pekerja Indonesia akan harus bersaing di Indonesia sendiri, dengan kemungkinan arus kedatangan pesaing dari warga dari negera ASEAN. Selain itu, isyu mengenai gaji tentu akan menjadi hal yang menarik perhatian.


Bagaimanapun, solusi permasalahan di atas perlu dipersiapkan mulai dari sekarang termasuk dilakukan kajian-kajian dan sinergi antara Asosiasi Profesi dan Perguruan Tinggi dalam Peningkatan Mutu SDM di Bidang Jasa Konstruksi.


Berkaitan dengan “Bangkit Baja Indonesia” dalam rangka peningkatan SDM dan sosialisasi informasi teknologi bidang baja Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI) yang didukung SteelIndonesia.comakan melakukan road show ke 100 perguruan tinggi di Indonesia dimulai pada bulan Oktober pada tahun 2009, dengan harapan bahwa mahasiswa dan dosen akan lebih dekat dengan baja dan akan memperbesar komunitas baja di Indonesia. Hal ini sebagai bentuk perwujudan nyata links and match antara asosisasi dan perguruan tinggi.


SKA dan SKT dapat ditempuh di asosiasi profesi, namun demikian diperbolehkan perguruan tinggi menyelenggarakan sertifikasi SKA dan SKT sepanjang aturannya terpenuhi. Perguruan Tinggi yang akan menyelenggarakan sertifikasi tentunya harus membentuk Badan Sertifikasi Keahlian (BSA) atau Badan Sertifikasi Ketrampilan (BSK). Perguruan Tinggi yang telah mempunyai BSK antara lain Politeknik Negeri Jakarta dan politeknik negeri lainnya. Oleh karena itu dalam menyikapi keadaan seperti di atas diperlukan kepedulian semua pihak termasuk kebijakan pemerintah untuk mendorong sinergi antara asosiasi profesi dan perguruan tinggi. Pada umumnya asosiasi profesi adalah organisasi yang pengurus dan anggotanya telah bekerja di bidangnya, dan mereka telah banyak memiliki berbagai pengalaman kerja dalam menghadapi persoalan serta kasus yang terjadi di lapangan.Potensi dasar yang telah dimiliki oleh asosiasi profesi, industri, instansi pemerintah dan perguruan tinggi menjadi modal untuk mendorong “Bangkit Baja Indonesia”. Dengan komitmen semua pihak terhadap perkembangan industri baja semoga bangsa dan negara Indonesia dapat lebih maju dan dapat mensejahterakan masyarakat pada umumnya serta dapat berdiri sejajar dengan negara dikawasan regional dan internasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar