Senin, 25 Juni 2012

latar belakang kti Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kebutuhan Gizi


Masalah gizi seimbang di Indonesia masih merupakan masalah yang cukup berat. Pada hakikatnya berpangkal pada keadaan ekonomi yang kurang dan terbatasnya pengetahuan tentang nilai gizi dari makanan yang ada. Penyakit karena kekurangan gizi di Indonesia yang utama adalah defisiensi protein kalori, defisiensi vitamin A, dan defisiensi yodium. Untuk mengatasi gizi seimbang, Departemen Kesehatan menjalankan usaha: penelitian, survei gizi, perbaikan gizi dan proyeksi gizi (Irianto dkk, 2007).

Kekurangan atau kelebihan makanan pada masa hamil dapat berakibat kurang baik bagi ibu, janin yang dikandung serta jalannya persalinan. Oleh karena itu, perhatian terhadap gizi dan pengawasan berat badan (BB) selama hamil merupakan salah satu hal penting dalam pengawasan kesehatan pada masa hamil. Selama hamil, calon ibu memerlukan lebih banyak zat-zat gizi daripada wanita yang tidak hamil, karena makanan ibu hamil dibutuhkan untuk dirinya dan janin yang dikandungnya, bila makanan ibu terbatas janin akan tetap menyerap persediaan makanan ibu sehingga ibu menjadi kurus, lemah, pucat, gigi rusak, rambut rontok dan lain-lain. Demikian pula,  bila makanan ibu kurang, tumbuh kembang janin akan terganggu, terlebih bila keadaan gizi ibu pada masa sebelum hamil telah buruk pula. Keadaan ini dapat mengakibatkan abortus, BBLR, bayi lahir prematur atau bahkan bayi lahir mati. Pada saat bersalin dapat mengakibatkan persalinan lama, perdarahan, infeksi dan kesulitan lain yang mungkin memerlukan pembedahan (Anonymous, 2010).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa prevalensi anemia pada kehamilan secara global 55% dimana secara bermakna tinggi pada trimester ketiga dibandingkan dengan trimester pertama dan kedua kehamilan. Di negara yang berkembang termasuk Indonesia masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama dan merupakan penyebab kematian wanita (Pasaribu, 2006).
Berdasarkan Hasil Survei Cepat Anemia di Lampung tercatat sebesar 73,74% lebih tinggi dari angka nasional sebesar 50,9%. Wilayah Lampung Timur prevalensi anemia tercatat sebesar 72,3% (tinggi) dan bila dengan Kabupaten lain di Propinsi Lampung maka Kabupaten Lampung Timur masuk urutan ketiga. (Profil Kesehatan Lampung, 2005). Di Indonesia sendiri masih ditemui ibu hamil yang mengalami kurang gizi kronis diatas 30% atau sekitar 1,5 juta, untuk wilayah Lampung 1,17%. (Data Gizi Propinsi Lampung, 2005). Data sasaran ibu hamil di Kabupaten Lampung Timur tahun 2006 sebanyak 23.658 ibu hamil dengan prevalensi gizi kurang sebanyak 2,28%. (Hasil evaluasi bumil dengan resiko KEK dan anemia Kabupaten LampungTimur, 2006). Berdasarkan hasil survei cepat di Propinsi Lampung pada tahun 1997 jumlah BBLR selama tiga tahun cenderung meningkat yaitu pada tahun 2003 tercatat 848 tahun 2004 tercatat 912 sedangkan pada tahun 2005 tercatat 2210. (Profil Kesehatan Provinsi Lampung 2005). Dan data kelahiran di Kabupaten Lampung Timur sebanyak 19.522 dengan kasus BBLR 118 (0,71%), (Profil Kesehatan Lampung Timur, 2005) (Gizi Online, 2007).
Prevalensi anemia yang tinggi dapat membawa akibat negatif seperti:  gangguan dan hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh  maupun sel otak, kekurangan Hb dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang dibawa/ditransfer ke seluruh tubuh maupun ke otak. Pada ibu hamil dapat mengakibatkan efek buruk pada ibu itu sendiri maupun pada bayi yang dilahirkan. Studi di Kualalumpur memperlihatkan terjadinya 20 % kelahiran prematur bagi ibu yang tingkat kadar haemoglobinnya di bawah 6,5gr/dl. Studi lain menunjukkan bahwa risiko kejadian BBLR, kelahiran prematur dan kematian perinatal  meningkat pada wanita hamil dengan kadar hasemoglobin kurang dari 10,4 gr/dl. Pada usia kehamilan sebelum 24 minggu dibandingkan kontrol mengemukakan bahwa anemia merupakan salah satu  faktor kehamilan dengan risiko tinggi (Wanamiruddin, 2007).
Dari survei awal yang dilakukan peneliti di Klinik Sarimulianta Mabar bulan Mei Tahun 2010,  dari 18 ibu hamil yang berkunjung,  terdapat 5 orang ibu hamil anemia, berat badan yang tidak sesuai dengan kehamilan dan masih banyak ibu yang kurang mengerti mengenai kebutuhan gizi selama kehamilan.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui sejauh mana Tingkat  Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kebutuhan Gizi Selama Kehamilan di Klinik ................... Tahun 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar