Tampilkan postingan dengan label Ringkasan Materi Keperawatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ringkasan Materi Keperawatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Agustus 2012

Prinsip dasar keperawatan anak

Terdapat prinsip atau dasar dalam keperawatan anak yang dijadikan sebagai pedoman dalam memahami filosofi keperawatan anak. Perawat harus memahaminya, mengingat ada beberapa prinsip yang berbeda dalam penerapan asuhan. Di antara prinsip dalam asuhan keperawatan anak tersebut adalah: Pertama, anak bukan miniature orang dewasa tetapi sebagai individu yang unik.

Prinsip dan pandangan keperawatan ini mengandung arti bahwa tidak boleh memandang anak dari ukuran fisik saja sebagaimana orang dewasa melainkan anak sebagai individu yang unik yang mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan menuju proses kematangan. Pola-pola inilah yang harus dijadikan ukuran, bukan hanya bentuk fisiknya saja tetapi kemampuan dan kematangannya. Kedua, anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangan. Sebagai individu yang unik anak memiliki berbagai kebutuhan yang berbeda satu dengan yang lain sesuai dengan usia tumbuh kembang. Kebutuhan tersebut dapat meliputi kebutuhan fisiologis seperti kebutuhan nutrisi dan cairan, aktivitas, eliminasi, istirahat, tidur, dan lain-lain. Selain kebutuhan fisiologis tersebut, anak juga sebagai individu yang juga membutuhkan kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual. Hal tersebut dapat terlihat pada tahap usia tumbuh kembang anak. Pada saat yang bersamaan perlu memandang tingkat kebutuhan khusus yang dialami oleh anak. Ketiga, pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan, bukan hanya mengobati anak yang sakit. Upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pada anak, mengingat anak adalah generasi penerus bangsa.

Keempat, keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggung jawab secara komprehensif dalam memberikan asuhan keperawatan anak. Kelima, praktik keperawatan anak mencakup kontrak dengan anak dan keluarga untuk mencegah, mengkaji, mengintervensi, dan meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan aspek moral (etik) dan aspek hukum (legal).

Keenam, tujuan keperawatan anak dan remaja adalah untuk meningkatkan maturasi atau kematangan yang sehat bagi anak dan remaja sebagai mahluk biopsikososial dan spiritual dalam konteks keluarga dan masyarakat. Ketujuh, pada masa yang akan datang kecenderungan keperawatan anak berfokus pada ilmu tumbuh kembang sebab ilmu tumbuh kembang ini yang akan mempelajari aspek kehidupan anak (Azis, 2005).

Sabtu, 14 Juli 2012

Konsep Haemoraghi Post Partum (HPP)

Haemoraghi Post Partum (HPP) Pengertian Perdarahan yang terjadi setelah melahirkan anak dalama 24 jam yang jumlahnya lebih dari 500-600 cc.
  • Insiden Pada negara berkembang kasus ini mencapai 5-15 % dari seluruh jumlah persalinan yang terjadi. 
  • Etiologi
    Atonia uteri (50-60 %).

    Retensio placenta (16-17%).

    Sisa placenta (23-24 %).

    Laserasi jalan lahir (4-5 %).

    Kelainan darah (0,5-0,8 %).
     
  • Predisposisi
    Umur (yang terlalu tua atau terlalu muda pada saat melahirkan), paritas (Multi para atau grandemulti), partus lama, obstetri oprastif dan narkose, uterus terlalu tegang dan besar, kelainan pada uterus (myoma uteri), Sosek  yang kurang yang dapat menyebabkan malnutrisi.
     
  • Diagnosis
    Palpasi: kontraksi uterus dan TFU.

    Inspeksi: Uri, ketuban (lengkap atau tidak), aapakah ada robekan di vagina atau adanya varises.

    Eksplorasi cavum uteri: sisa uri dan ketuban, robekan rahim, placenta suksenturiata.

    Pemeriksaan laboratoris: DL (Hb), Faal hemostasis, Clot observastion test (COT).

    Pemeriksaan USG jika diperlukan.
     
  • Gejala
    Perdarahan yang lebih dari 500-600 cc, kontraksi uterus lemah, uterus lembek (boggy), Sub involusi (fundus uteri naik), muka pucat/ anemis.
     
  • Prognosis
    Angka kematian ibu mencapai 7,9 % (Mochtar. R), dan menurut Wignyosastro angka kematian ibu mencapai 1,8-4,5% dari kasus yang ada.
     
  • Penatalaksanaan
    Secara umum untuk kasus perdarahan adalah:

    Hentikan perdarahan.

    Cegah terjadinya syock.

    Ganti darah yang hilang.
     
  • Penatalaksanaan khusus:
    Tahap I (perdarahan yang tidak terlalu banyak):
    Berikan uterotonika, urut/ massage pada rahim, pasang gurita.
    Tahap II (perdarahan lebih banyak):
    Lakukan penggantian cairan (transfusi atau infus), prasat atau manuver (Zangemeister, frits), kompresi bimanual, kompresi aorta, tamponade uterovaginal, menjepit arteri uterina.
    Bila semua tindakan diatas tidak menolong:
    Ligasi arteria hipogastrika, histerekstomi.
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan gangguan pembentukan sel darah putih.
  • Tujuan:
    Tidak terjadi infeksi selama dalam masa perawatan dengan kriteria:

    Tidak ada tanda-tanda infeksi (tumor, ruborm kalor, dolor dan fungsiolaesa).

    Tanda-tanda vital dalam batas normal (tensi, suhu, nadi dan respirasi).

    Hasil pemeriksaan lab (DL) dalam batas normal.
     
  • Rencana:
    Jelaskan kepada klien tentang tanda-tanda terjadinya infeksi.

    R/ Pengetahuan yang memadai memungkinkan klien kooperatif terhadap tindakan keperawatan.
     
  • Observasi jumlah perdarahan.
    R/ Perdarahan yang banyak menyebabkan pertahanan tubuh melemah akibat dari pengeluaran leukosit yang berlebihan.
     
  • Motivasi klien untuk menjaga kebersihan diri.
    R/ Lingkungan yang lembab merupakan media yang baik bagi pertumbuhan kuman yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi.

    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotika.

    R/ Antibiotika yang spesifik dapat membantu untuk mencegah pertumbuhan kuman yang lebh progresif.

    Observasi tanda-tanda infeksi dan TTV (tensi, suhu, nadi dan pernafasan).
     
  • R/ Peningkatan TTV dapat mencerminkan terjadinya infeksi.
Resiko terjadinya anemia berhubungan dengan efek dari perdarahan.
Tujuan:
Tidak terjadi anemia selama dalam masa perawatan dengan kriteria:
Hb > 10 gr %.
Konjungtiva tidak anemis.
Mukosa tidak pucat.
Rencana:
Identifikasi pengetahuan pasien tentang anemia dan jelaskan penyebab dari anemia.
R/ Pengetahuan yang cukup memudahkan pasien untuk kooperatif terhadap tindakan keperawatan.
Anjurkan pada pasien untuk tirah baring.
R/ Aktivitas yang sedikit akan mengurangi metabolisme sehingga beban suplai oksigen ke jaringan akan menjadi lebih baik.
Kolaborasi dalam pemberian nutrisi yang adekuat (Diet TKTP).
R/ Nutrisi merupakan bahan sebagai pembentuk Hb terutama zat besi.
Kolaborasi dengan dokter dalam:
Pemberian koagulantia dan roburantia.
Pemberian transfusi.
Pemeriksaan DL secara berkala.
Observasi KU pasien, konjungtiva dan keluhan pasien.
Resiko terjadinya syock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang terjadi secara terus menerus.
Tujuan:
Tidak terjadi syok selama dalam masa perawatan dengan kriteria:
Tidak terjadi penurunan kesadaran.
TTV dalam batas normal.
Turgor kulit baik.
Perfusi perifer baik (akral hangat, kering dan merah).
Cairan dalam tubuh balance.
Rencana:
Anjurkan pasien untuk lebih banyak minum.
R/ Peningkatan intake cairan dapat meningkatkan volume intrvaskuler yang dapat meningkatkan perfusi jaringan.
Observasi TTV tiap 4 jam.
R/ Perubahan TTV dapat merupakan indikator terjadinya dehidrasi secara dini.
Observasi terhadap tanda-tanda dehidrasi.
R/ Dehidrasi merupakan awal terjadinya syock bila dehidrasi tidak ditangan secara baik.
Observasi intake cairan dan output.
R/ Intake cairan yang adekuat dapat mengimbangi pengeluaran cairan yang berlebihan.
Kolaborasi dalam:
Pemberian cairan infus atau transfusi.
 Pemberian koagulantia dan uterotonika.
Pemesangan CVP.
Pemeriksaan BJ Plasma.

Resiko terjadinya asidosis metabolik berhubungan dengan penurunan jumlah darah dalam kapiler.
Tujuan:
Tidak terjadi asidosis metabolik selama dalam masa perawatan dengan kriteria:
Hasil BGA dalam batas normal.
TTV dalam batas normal.
Rencana:
Observasi TTV dalam batas normal.
R/ Perubahan TTV merupakan tanda awal deteksi dari terjadinya asidosis.
Anjurkan dan motivasi pasien untuk minum yang manis.
R/ Mengurangi pemecahan protein dan lemak yang berlebihan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
Kolaborasi dalam:
Pemeriksaan BGA.
Pemberian cairan intravena.

Self care defisit berhubungan dengan kelemahan fisik
Tujuan:
Selama dalam masa perawatan kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi.
Rencana:
Jelaskan pada pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan diri.
R/ Pengetahuan yang memadai memungkinkan klien kooperatif terhadap tindakan perawatan yang dilakukan.
Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi (makan dan minum).
R/ Kelemahan tubuh mengharuskan klien memenuhi kebutuhan dengan bantuan orang lain.
Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan kebersihan diri.
R/ Kelemahan tubuh yang terjadi dapat mengakibatkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan kebersihan perseorangan.
Observasi pemenuhan kebutuhan aktivitas sehari-hari. 
R/ Peningkatan kemampuan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dapat mencerminkan berkurangnya kelemahan tubuh.

Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Eklamsia

Definisi : Eklamsia merupakan komplikasi kehamilan yang serius, dan dapat dikarakteristikkan dengan adanya kejang. Biasanya eklamsia merupakan lanjutan dari pre- eklamsia walaupun kadang – kadang tidak diketahui terlebih dahulu. Definisi lain dari eklamsia adalah onset baru hipertensi gestasi yang diikuti dengan kejang grand mal (Zeeman, Fleckenstein, twickler,& Cunningham,2004), dan kejang pada pre-eklampsia yang tidak bisa dikaitkan dengan penyebab lain (Abbrescia & Sheridan,2003). Kejang pada eklampsia tidak berhubungan dengan kondisi otak dan biasanya terjadi setelah 20 minggu kehamilan.
Etiologi
Eklamsia dapat terjadi apabila pre-eklampsia tidak ditangani, sehingga penyebab dari eklampsia sama dengan penyabab pre-eklampsia. Ada beberapa factor resiko predisposisi tertentu yang dikenal, antara lain:
Status primigravida
Riwayat keluarga pre-eklamsia atau eklamsia
Pernah eklamsia atau pre-eklamsia
Suami baru
Usia ibu yang ekstrem (<> 35 tahun)
Sejak awal menderita hipertensi vascular, penyakit ginjal atau autoimun
Diabetes Mellitus
Kehamilan ganda
Manifestasi Kinis
Gejala dan tanda yang terdapat pada pasien eklamsia berhubungan dengan organ yang dipengaruhinya, antara lain yaitu: Oliguria (kurang dari 400ml/24 jam atau urin tetap kurang dari 30 ml/jam, Nyeri Epigastrium, Penglihatan kabur, Dyspnea, Sakit kepala, Nausea dan Vomitting, Scotoma, dan Kejang.
Kebanyakan kasus dihubung-hubungkan dengan hipertensi dikarenakan kehamilan dan proteinuria tapi satu – satunya tanda nyata dari eklamsia adalah terjadinya kejang eklamtik, yang dibagi menjadi empat fase.
  1. Stadium Premonitory
  2. Fase ini biasanya tidak diketahui kecuali dengan monitoring secara konstan, mata  berputar – putar ketika otot wajah dan tangan tegang. 
  3. Stadium Tonik
    Segera setelah fase premonitory tangan yang tegang berubah menjadi mengepal. Terkadang ibu menggigit lidah seiring dengan ibu mengatupkan gigi, sementara tangan dan kaki menjadi kaku. Otot respirasi menjadi spasme, yang dapat menyebabkan ibu berhenti bernafas. Stadium ini berlangsung selama sekitar 30 menit.
  4. Stadium Klonik
    Pada fase ini spasme berhenti tetapi otot mulai tersentak dengan hebat. Berbusa, saliva yang bercampur sedikit darah pada bibir dan kadang – kadang bisa menarik nafas. Setelah sekitar dua menit kejang berhenti, menuju keadaan koma, tapi beberapa kasus menuju gagal jantung.
     
  5. Stadium coma
    Ibu tidak sadar, suara nafas berisik. Keadaan ini bisa berlangsung hanya beberapa menit atau bahkan dpat menetap sampai beberapa jam.
Patofisiologi
Pada kehamilan normal, volume vascular dan cardiac output meningkat. Meskipun meningkat, tekanan darah tidak normal pada kehamilan normal. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena wanita hhamil menjadi resisten terhadap efek vasokonstriktor, seperti angitensin II. Tahanan vascular perifer meningkat karena efek beberapa vasodilator seperti prostacyclin (PGI2), prostaglandin E (PGE), dan endothelium derived relaxing factor(EDRF). Rasio tromboxan dan PGI2 meningkat. Tromboxane diproduksi oleh ginjal dan jaringan trophoblastic, menyebabkan vasokonstriksi dan agregasi platelet.
Vasospasme menurunkan diameter pembuluh darah, yang akan merusak sel endothelial dan menurunkan EDRF. Vasokonstriksi juga akan mengganggu darah dan meningkatkan tekanan darah. Hasilnya, sirkulasi ke seluruh organ tubuh termasuk ginjal, hati, otak, dan placenta menurun. Perubahan – perubahan yang terjadi adalah sebagai berikut:
  • Penurunan perfusi ginjal menyebabkan penurunan glomerular filtration rate (GFR); sehingga urea nitrogen darah, kreatinin, dan asam urat mulai meningkat. 
  • Penurunan aliran darah ke ginjal juga menyebabkan kerusakan ginjal. Hal ini menyebabkan protein dapat melewati membrane glomerular yang pada normalnya adalah impermeable terhadap molekul protein yang besar. Kehilangan protein menyebabkan tekanan koloid osmotic menurun dan cairan dapat berpindah ke ruang intersisial. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya edema dan penurunan volume intravascular, yang meningkatkan viskositas darah dan meningktanya hematokrit. Respon untuk mengurangi volume intravascular, angiotensin II dan aldosteron akan dikeluarkan untuk memicu retensi air dan sodium. Terjadilah lingkaran proses patologik: penambahan angiotensin II semakin mengakibatkan vasospasme dan hipertensi; aldosteron meningkatkan retensi carian dan edema akan semakin parah. 
  • Penurunan sirkulasi ke hati mengakibatkan kerusakan fungsi hati dan edema hepatic dan perdarahan sibcapsular, yang dapat mengakibatkan hemorrhagic necrosis. Di manifestasikan dengan peningkatan enzim hati dalam serum ibu.
  • Vasokonstriksi pembuluh darah menyebabkan tekanan yang akan menghancurkan dinding tipis kapiler, dan perdarahan kecil cerebral. Gejala vasospasme arteri adalah sakit kepala, gangguan penglihatan, seperti penglihatan kabur, spot, dan hiperaktif reflek tendon dalam. 
  • Penurunan tekanan koloid onkotik dapat menyebabkan bocornya kapiler pulmonal mengakibatkan edema pulmonal. Gejala primer adalah dyspnea 
  • Penurunan sirkulasi plasenta mengakibatkan infark yang meningktakan factor resiko abruptio placentae dan DIC. Ketika aliran darah maternal melalui placenta berkurang, mengakibatkan pembatasan perkembangan intrauterine janin dan janin mengalami hipoksemia dan asidosis.
WOC (telampir)
Pemeriksaan Penunjang
a.    Pemeriksaan Laboratorium
Albuminuria : +2 atau +4
Proteinuria : (5 g dalam urine 24 jam atau +3 atau lebih pada dipstick)
Nitrogen urea darah (BUN) : kurang dari 10
Kreatinin serum : meningkat
Klirens kreatinin : 130-180
Trombositopenia
Asuhan Keperawatan pasien Eklamsia
I.  Pengkajian
1.   Identitas Klien
Nama :
Usia :
Alamat :
Pekerjaan :
No. Telephone :
Suami :
Pekerjaan :
No.Telephone :
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Dahulu: Pernah mengalami pre-eklampsia, Pernah mengalami eklampsia, Hipertensi vascular, Diabetes Mellitus, Penyakit ginjal.
b.  Riwayat Kesehatan Sekarang: Kehamilan Ganda, Mola Hidatidosa, Nyeri kepala di daerah frontal, Penglihatan kabur, Scotoma, Muntah , Mual keras, Nyeri di epigastrium, Hiperrefleksia, Kejang, Dyspnea
c.    Riwayat Kesehatan Keluarga
         -   Ada keluarga yang juga mengalami pre – eklampsia
         -   Keluarga mengalami eklampsia
d.    Riwayat Obstetri
G2 P1 H1 A0, Anak Ke, Lahir, BB, Keluhan
Riwayat menstruasi:
-   Ibu pertama kali mendapatkan menstruasi pada umur 12 tahun
-  Setelah 3 bulan menstruasi ibu mulai teratur, ibu tidak mengalami keluhan selama menstruasi
Riwayat KB: Ibu tidak menggunakan KB
Riwayat Konsumsi: Ibu menyukai makanan bergaram
3. Pemeriksaan Fisik
Tanda Vital : TD: Sistolik > 160 mmHg P: <> 110 mmHg S: 40◦C
MAP: 160/110 = 127
N: <> Rabas vagina berair
·         Cairan menetes secara berkala atau terpancar secara tiba-tiba
·         Cairan terlihat pada introitus
·         Tidak ada kontraksi dalam 1 jam
Amnionitis
·         Rabas vagina berair dan berbau busuk setelah gestasi 22 minggu
·         Demam/menggigil
·         Nyeri abdomen
·         Riwayat kehilangan cairan
·         Nyeri tekan uterus
·         DJJ cepat
·         Pendarahan pervagina ringan
Vaginitis
·         Rabas vagina berbau busuk
·         Tidak ada riwayat kehilangan cairan
·         Gatal
·         Rabas berbusa / warna didih
·         Nyeri abdomen
·         Disuria
Kemungkinan persalinan term / preterm
Rabas vagina berair atau lendir bercampur darah
·         Pembukaan dan pelunakan serviks
·         Kontraksi
Hemoragik antepartum
Rabas vagina berdarah
·         Nyeri abdomen
·         Kehilangan pergerakan pada janin
·         Pendarahan pervaginam
4. Pemeriksaan Penunjang
·         Letakan Pembalut pada vulva dan periksa pembalut tersebut (secara visual dan melalui baunya) satu jam kemudian
·         Gunakan spekulum yang disinfeksi tingkat tinggi untuk pemeriksaan pervagina :
o   Cairan dapat terlihat berasal dari servik atau membentuk genangan di forniks posterior.
o   Minta ibu untuk batuk karena hal ini dapat menyebabkan cairan memancar.
·         Pemeriksaan leukosit darah : > 15.000/mm3 bila terjadi infeksi ( N : 5000-9000), suhu > 38 oC, takikardi.
·         Pemeriksaan nitrazin : bergantung pada fakta bahwa sekresi vagina dan urin bersifat asam sementara cairan amnion bersifat basa. Pegang satu lembar kertas nitrazin pada hemostat dan sentuhkan kertas tersebut ke genangan cairan di ujung spekulum. Perubahan warna kertas kuning menjadi biru menunjukan alkalinitas ( adanya cairan amnion). Darah dan beberapa infeksi vagina memberi hasil positif palsu.
·         Amniosentesis
·         USG : menentukan usia kehamilan dan indeks cairan amnion berkurang.
·         Penentuan volume cairan ketuban bisa membantu dalam mengidentifikasi pasien dengan peningkatan resiko gawat janin.
·         Pemeriksaan servik bila telah ada kontraksi yang sakit dan teratur.
5. Terapi
Penatalaksanaan Umum :
-              Konfirmasikan keakuratan perhitungan usia gestasi
-       Gunakan spekulum yang disinfeksi tingkat tinggi untik mengkaji rabas vagina (jumlah, warna, bau ) dan singkirka diagnosa inkontinensia urine
-       Jika terdapat pendarahan per-vagina dengan nyeri abdomen konstan, curigai terjadinya abrupsio plasenta
-       Jika terdapat tanda-tanda infeksi ( demam, rabas vagina berbau busuk) berikan antibiotic
-       Jika terdapat tanda-tanda infeksi dan kehamilan kurang dari 37 minggu (janin imatur) :
o   Berikan anti biotik untuk mengurangi morbiditas ibu dan neonatus karena infeksi dan memperlambat pelahiran
Ø  Eritromisin 250 mg per oral tiga kali sehari selama 7 hari
Ø  Ditambah amoksilin 500 mg per oral tiga kali sehari selama 7 hari
o   Pertimbangkan memindahkan beyi ke layanan yang paling tepat untuk perawatan bayi baru lahir jika mungkin
o   Berikan kortikosteroid kepada ibu untuk meningkatkan kematangan paru janin
o   Lakukan induksi persalinan dengan menggunakan oksitosin pada gestasi 37 minggu dan berikan antibiotik profilaksis untuk membantu mengurangi infeksi streptokokus pada neonatus walaupun ibu telah mendapatkan antibiotik sebelumnya.
o   Jika kontraksi teraba dan terdapat rabas lendir bercampur darah, curigai terjadi persalinan preterem
-       Jika terdapat tanda-tanda infeksi dan usia kehamilan 37 minggu atau lebih ( matur)
-       Jika ketuban pecah lebih dari 18 jam, berikan penisilin atau ampisilin profilksis untuk membentu mengurangi infeksi streptokokus grup B pada neonatus. Jika terdapat tanda-tanda infeksi setelah pelahiran hentikan pemberian antibiotik
-       Kaji servik :
o   Jika kondisi servik baik ( lunak, tipis, membuka sebagian ) lakukan induksi persalinan dengan menggunakan oksitosin
o    Jika kondisi servik tidak baik ( keras, tebal, tertutup ), matangkan servik dengan menggunakan prostaglandin dan infus oksitosin atau lahirkan janin melalui sesaria.

Klasifikasi dan Predisposisi preeklampsi meningkat pada kehamilan

Klasifikasi  Preeklampsi  :
a.      Preeklampsi  ringan  ditandai :
-          Tekanan darah sistol 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan intrerval  6 jam pemeriksaan.
-          Tekanan darah diastol  90  atau kenaikan 15 mmHg.
-          BB naik lebih dari 1 Kg/minggu.
-          Proteinuri 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif 1 – 2 pada setiap urine kateter atau midstearh.
b.      Preeklampsi  berat  ditandai :
-   Tensi 160/110 mmHg atau lebih.
-   Oliguri, urine , 400  cc/24 jam.
-   Proteinuri > dari  3 gr/l.
-       Keluhan subyektif : nyeri epigastrium, nyeri kepala, gangguan penglihatan, gangguan kesadaran, oedema paru dan sianosis.
Predisposisi preeklampsi meningkat pada kehamilan :
-          Penyakit Trophoblastic
Terjadi pada 70 % dari wanita dengan mola hidatidosa terutama pada usia kehamilan 24 minggu.
-          Multigravida
Walaupun kejadian preeklampsi lebih besar pada primigravida, insidennya meningkat juga pada multipara kejadiannya hampir mendekati 30 %.
-          Penyakit Hipertensi kronik.
-          Penyakit Ginjal kronik.
-          Hidramnion, gemmeli.
-          Usia ibu lebih dari 35 tahun.
-          Cenderung Genetik.
-          Memiliki riwayat Preeklampsi.
-          DM, insiden 50 %.
-          Obesitas.
Penanganannya:
            a.   Preeklampsi  Ringan :
Jika kehamilan kurang 37 minggu dilakukan pemeriksaan 2 kali seminggu secara rawat jalan :
Ø  Pantau tensi, proteinuri, reflek patela, dan kondisi janin.
Ø  Lebih banyak istirahat.
Ø  Diet biasa.
Ø  Tidak perlu obat-obatan.
b.      Preeklampsi  Berat :
Penangananya sama, kecuali persalinan  harus berlangsung dalam 12 jam setelah kejang.
  Pengkajian:
a.      Anamnese :
-          Nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkwinan, berapa kali nikah, dan berapa lama.
-          Riwayat kehamilan sekarang : kehamilan yang ke berapa, sudah pernah melakukan ANC, terjadi peningkatan tensi, oedema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, dan penglihatan kabur.
-          Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit jantung, ginjal,  HT, paru.
-          Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu : adakah hipertensi atau preeklampsi.
-          Riwayat kesehatan keluarga : adakah keluarga yang menderita penyakit jantung, ginjal, HT, dan gemmeli.
-          Pola pemenuhan nutrisi.
-          Pola istirahat.
-          Psiko-sosial- spiritual :emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan.
b.      Pemeriksaan fisik :
-          Inspeksi : oedema, yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam.
-          Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi oedema dengan menekan bagian tertentu dari tubuh.
-          Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress, kelainan jantung, dan paru pada ibu.
-          Perkusi : untuk mengetahui reflek patela sebagai syarat pemberian  Mg SO4.
-          Pemeriksaan penunjang :
¨      Tanda vital yang diukur  2 kali dengan interval 6 jam.
¨      Laboratorium : proteinuri dengan kateter atau midstream (biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau  + 1 sampai  + 2 pada skala kualitatif), kadar hematokrit menurun, berat jenis urine meningkat, serum kreatinin meningkat, uric acid > 7 mg/100 ml.
¨      USG : untuk medeteksi keadaan kehamilan, dan plasenta.
¨      NST : untuk menilai kesejahteraan janin.

Pengertian Preeklampsia dan konsep dasar Preeklampsia

Preeklampsi  adalah  penyakit yang diderita  oleh bumil yang ditandai dengan adanya hipertensi, oedema, dan proteinuri. Tetapi bumil tidak menunjukan tanda-tanda kelainan hipertensi sebelum hamil (Rustam Mucthar, 1998). Dimana gejala preeklampsi biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih.
II.      Etiologi
Secara pasti penyebab timbulnya gejala tersebut belum diketahui secara pasti, teori yang digunakan oleh ilmuwan belum dapat menjawab beberapa hal berikut :
1.      Frekuensi bertambah banyak pada primigravida, kehamilan ganda, hidramion, dan mola hidatidosa.
2.      Sebab bertambanya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan .
3.      Sebab jarang terjadinya preeklampsi pada kehamilan-kehamilan berikutnya.
4.      Sebab timbulnya hipertensi, oedema, dan proteinuri.
Dari semua gejala tersebut, gejala awal yang muncul adalah hipertensi, dimana untuk menegakkan diagnosa tersebut adalah yaitu kenaikan tekanan sistole paling tidak naik hingga 30 mmHg atau lebih dibandingkan dengan tekanan darah sebelumnya. Kenaikan  diastolik 15 mmHg atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Untuk memastikan diagnose tersebut harus dilakukan pemeriksaan  tekanan darah minimal dua kali dengan jarak waktu 6 jam pada saat istirahat.
Oedema adalah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dengan kenaikan BB yang berlebihan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Bila kenaikan  BB lebih dari 1 Kg setiap minggunya selama beberapa kali ,maka perlu adanya kewaspadaan akan timbulnya preeklampsi.
Proteinuri  berarti  konsentrasi  protein dalam  urin > 0,3 gr/liter urin 24 jam  atau   pemeriksaan  kuantitatif menunjukkan + 1 atau + 2    atau 1 gr/liter atau lebih dalam urine midstream yang diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam . Proteinuri timbul lebih lambat dari dua gejala sebelumnya, sehingga perlu kewaspadaan jika muncul gejala tersebut.
III.    Patofisiologi.
            Pada preeklampsi terdapat penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi peningkatan hematokrit, dimana perubahan pokok pada preeklampsi yaitu mengalami spasme pembuluh darah  perlu adanya kompensasi hipertensi  ( suatu usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifir agar oksigenasi jaringan tercukupi). Dengan adanya  spasme pembuluh darah  menyebabkan perubahan – perubahan ke organ  antara lain  :               
           a.   Otak .
Mengalami  resistensi pembuluh darah ke otak meningkat akan terjadi oedema yang menyebabkan kelainan cerebal bisa menimbulkan pusing dan CVA ,serta kelainan visus pada mata.
b.   Ginjal.
Terjadi spasme arteriole glomerulus yang menyebabkan aliran darah ke ginjal berkurang  maka terjadi filtrasi glomerolus  negatif , dimana filtrasi natirum lewat glomelurus mengalami penurunan  sampai dengan 50 %  dari normal yang mengakibatkan retensi garam dan air , sehingga terjadi oliguri dan oedema.
c.   URI
Dimana aliran darah plasenta menurun yang menyebabkan gangguan plasenta maka akan terjadi IUGR, oksigenisasi berkurang sehingga akan terjadi gangguan pertumbuhan janin, gawat janin , serta kematian janin dalam kandungan.
 d.  Rahim
Tonus otot  rahim peka rangsang terjadi peningkatan  yang akan menyebabkan partus prematur.
e.   Paru
Dekompensi cordis yang akan menyebabkan oedema paru  sehingga oksigenasi terganggu dan cyanosis maka akan terjadi gangguan pola nafas. Juga mengalami aspirasi paru / abses paru yang bisa menyebabkan kematian .
f.   Hepar
Penurunan perfusi ke hati dapat mengakibatkan  oedema hati , dan perdarahan subskapular sehingga sering  menyebabkan nyeri epigastrium, serta ikterus.