Tampilkan postingan dengan label Ringkasan Materi Ilmu Gizi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ringkasan Materi Ilmu Gizi. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 April 2014

Anti Oksidan terhadap kesehatan

Anti Oksidan terhadap terhadap kesehatan manusia sangat dibutuhkan sekali untuk itu suple dari tubuh kita sangat membutuhkan antioksidan berikut ini adalah ulasan mengenai salah satu contoh manfaat Anti Oksidan terhadap kesehatan

Sebagai pengobatan Penyakit

Otak secara unik rentan terhadap cedera oksidatif, karena tingkat metabolisme yang tinggi dan peningkatan kadar lipid polyunsaturated, target peroksidasi lipid. Akibatnya, antioksidan biasanya digunakan sebagai obat untuk mengobati berbagai bentuk cedera otak. Di sini, mimetics superoksida dismutase, natrium thiopental dan propofol digunakan untuk mengobati cedera reperfusi dan cedera otak traumatis, sedangkan obat percobaan NXY-059 dan ebselen sedang diterapkan dalam pengobatan stroke. 

Senyawa ini muncul untuk mencegah stres oksidatif dalam neuron dan mencegah apoptosis dan kerusakan saraf. Antioksidan juga sedang diteliti sebagai pengobatan untuk penyakit neurodegenerative seperti penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, dan sclerosis lateral sclerosis, dan sebagai cara untuk mencegah noise-induced gangguan pendengaran.

Sebagai Pencegahan penyakit

Antioksidan dapat membatalkan efek yang merusak sel dari radikal bebas. dan ada bukti bahwa beberapa jenis sayuran, dan buah-buahan pada umumnya, melindungi terhadap sejumlah kanker. Observasi ini menyarankan gagasan bahwa antioksidan dapat membantu mencegah kondisi ini. Namun, hipotesis ini kini telah diuji dalam uji klinis banyak dan sepertinya tidak benar, karena suplemen antioksidan tidak memiliki pengaruh yang jelas terhadap risiko penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung. Diperkirakan bahwa oksidasi low density lipoprotein dalam darah memberikan kontribusi pada penyakit jantung, dan studi observasi awal menemukan bahwa orang yang memakai suplemen vitamin E memiliki risiko lebih rendah menderita penyakit jantung.

Akibatnya, setidaknya tujuh percobaan klinis besar dilakukan untuk menguji efek dari suplemen antioksidan dengan Vitamin E, dalam dosis mulai dari 50 sampai per hari. Namun, tidak ada uji coba ini menemukan pengaruh signifikan secara statistik Vitamin E pada jumlah keseluruhan kematian atau kematian akibat penyakit jantung. Penelitian lebih lanjut juga telah negatif. Hal ini tidak jelas apakah dosis yang digunakan dalam percobaan atau dalam suplemen diet yang paling mampu menghasilkan apapun penurunan yang signifikan dalam stres oksidatif. Secara keseluruhan, meskipun peran yang jelas dari stres oksidatif pada penyakit kardiovaskuler, studi dikendalikan dengan menggunakan vitamin antioksidan telah mengamati tidak ada pengurangan baik dalam risiko penyakit jantung, atau laju perkembangan penyakit yang ada.

Sementara beberapa percobaan telah menyelidiki suplemen dengan dosis tinggi antioksidan, yang Suplementasi et en Vitamines Mineraux Antioxydants''" (SU.VI.MAX) penelitian menguji pengaruh suplementasi dengan dosis yang sebanding dengan mereka yang diet sehat. Lebih dari 12.500 pria dan wanita Perancis mengambil baik antioksidan dosis rendah (asam askorbat, vitamin E, beta karoten, 100 \ Mu g selenium, dan seng) atau pil plasebo selama rata-rata 7,5 tahun. Para peneliti menemukan tidak ada pengaruh signifikan secara statistik dari antioksidan pada kelangsungan hidup secara keseluruhan, kanker, atau penyakit jantung. Namun, dalam analisis post-hoc mereka menemukan penurunan 31% pada risiko kanker pada laki-laki, tapi tidak perempuan.

Banyak perusahaan makanan nutraceutical dan kesehatan menjual formulasi antioksidan sebagai suplemen diet dan ini banyak digunakan di negara-negara industri. Suplemen ini mungkin termasuk bahan kimia antioksidan tertentu, seperti resveratrol (dari biji anggur atau akar knotweed), kombinasi dari antioksidan, seperti ACES "produk" yang mengandung beta karoten (provitamin A), vitamin C, vitamin E dan S elenium, atau tumbuhan yang mengandung antioksidan - seperti teh hijau dan jiaogulan. Meskipun beberapa tingkat vitamin antioksidan dan mineral dalam diet diperlukan untuk kesehatan yang baik, ada keraguan yang cukup besar untuk apakah suplemen antioksidan bermanfaat atau berbahaya, dan jika mereka benar-benar bermanfaat, yang antioksidan (s) yang diperlukan dan berapa jumlah . Memang, beberapa penulis berpendapat bahwa hipotesis bahwa antioksidan dapat mencegah penyakit kronis kini telah disproven dan bahwa gagasan itu sesat dari awal.

Untuk harapan hidup secara keseluruhan, bahkan sudah menyarankan bahwa tingkat moderat stres oksidatif dapat meningkatkan umur dalam cacing''elegans Caenorhabditis'', dengan menginduksi respon protektif terhadap peningkatan tingkat spesies oksigen reaktif. Namun, saran yang meningkatkan harapan hidup berasal dari peningkatan konflik stres oksidatif dengan hasil yang terlihat dalam ragi,Saccharomyces cerevisiae, dan situasi di mamalia bahkan kurang jelas.

Suplemen Olahraga

Selama latihan, konsumsi oksigen dapat meningkat dengan faktor lebih dari 10. Hal ini menyebabkan peningkatan besar dalam produksi oksidan dan hasil kerusakan yang memberikan kontribusi untuk kelelahan otot selama dan setelah latihan. Respon inflamasi yang terjadi setelah latihan berat juga berhubungan dengan stres oksidatif, terutama dalam 24 jam setelah sesi latihan. Respon sistem kekebalan terhadap kerusakan yang dilakukan oleh puncak latihan 2 sampai 7 hari setelah latihan, yang merupakan periode di mana sebagian besar adaptasi yang mengarah ke kebugaran yang lebih besar terjadi. Selama proses ini, radikal bebas yang diproduksi oleh neutrofil untuk menghilangkan jaringan yang rusak. Akibatnya, tingkat antioksidan yang berlebihan dapat menghambat mekanisme pemulihan dan adaptasi. suplemen Antioksidan juga dapat mencegah salah satu keuntungan kesehatan yang biasanya datang dari latihan, seperti sensitivitas insulin meningkat.

Bukti manfaat dari suplemen antioksidan dalam olahraga berat dicampur. Ada bukti kuat bahwa salah satu adaptasi yang dihasilkan dari latihan adalah memperkuat pertahanan antioksidan tubuh, khususnya sistem glutathione, untuk mengatur stres oksidatif meningkat. Efek ini mungkin akan sampai batas tertentu perlindungan terhadap penyakit yang berhubungan dengan stres oksidatif, yang akan memberikan penjelasan parsial untuk lebih rendah insiden penyakit utama dan kesehatan yang lebih baik dari mereka yang melakukan olahraga secara teratur.

Namun, tidak ada manfaat untuk kinerja fisik untuk atlet dilihat dengan suplemen vitamin E. Memang, meskipun peranan penting dalam mencegah peroksidasi lipid membran, 6 minggu suplemen vitamin E tidak berpengaruh terhadap kerusakan otot di pelari maraton. Walaupun tampaknya ada ada persyaratan ditingkatkan untuk vitamin C dalam atlet, ada beberapa bukti bahwa suplemen vitamin C meningkatkan jumlah dari latihan yang dapat dilakukan dan vitamin C suplemen sebelum latihan berat dapat mengurangi jumlah kerusakan otot. Namun, penelitian lain tidak menemukan efek seperti itu, dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplementasi dengan jumlah setinggi menghambat pemulihan.

Jumat, 21 September 2012

Metode/cara Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb)

Metode Pemeriksaan Kadar Hemoglobin (Hb)
Diantara metode yang paling sering digunakan di laboratorium dan yang paling sederhana adalah metode sahli, dan yang lebih canggih adalah metode cyanmethemoglobin. (Bachyar, 2002) Pada metode Sahli, hemoglobin dihidrolisi dengan HCl menjadi globin ferroheme. Ferroheme oleh oksigen yang ada di udara dioksidasi menjadi ferriheme yang akan segera bereaksi dengan ion Cl membentuk ferrihemechlorid yang juga disebut hematin atau hemin yang berwarna cokelat. Warna yang terbentuk ini dibandingkan dengan warna standar (hanya dengan mata telanjang). Untuk memudahkan perbandingan, warna standar dibuat konstan, yang diubah adalah warna hemin yang terbentuk. Perubahan warna hemin dibuat dengan cara pengenceran sedemikian rupa sehingga warnanya sama dengan warna standar. Karena yang membandingkan adalah dengan mata telanjang, maka subjektivitas sangat Universitas Sumatera Utara berpengaruh. Di samping faktor mata, faktor lain, misalnya ketajaman, penyinaran dan sebagainya dapat mempengaruhi hasil pembacaan. Meskipun demikian untuk pemeriksaan di daerah yang belum mempunyai peralatan canggih atau pemeriksaan di lapangan, metode sahli ini masih memadai dan bila pemeriksaannya telat terlatih hasilnya dapat diandalkan. Metode yang lebih canggih adalah metode cyanmethemoglobin. Pada metode ini hemoglobin dioksidasi oleh kalium ferrosianida menjadi methemoglobin yang kemudian bereaksi dengan ion sianida membentuk sian-methemoglobin yang berwarna merah. Intensitas warna dibaca dengan fotometer dan dibandingkan dengan standar. Karena yang membandingkan alat elektronik, maka hasilnya lebih objektif. Namun, fotometer saat ini masih cukup mahal, sehingga belum semua laboratorium memilikinya.

Prosedur pemeriksaan dengan metode sahli
  • Reagensia :
    1. HCl 0,1 N
    2. Aquadest
  • Alat/sarana :
    1. Pipet hemoglobin
    2. Alat sahli
    3. Pipet pastur
    4. Pengaduk
  • Prosedur kerja :
    1. Masukkan HCl 0,1 N ke dalam tabung Sahli sampai angka 2
    2. Bersihkan ujung jari yang akan diambil darahnya dengan larutan desinfektan (alcohol 70%, betadin dan sebagainya), kemudian tusuk dengan lancet atau alat lain
    3. Isap dengan pipet hemoglobin sampai melewati batas, bersihkan ujung pipet, kemudian teteskan darah sampai ke tanda batas dengan cara menggeserkan ujung pipet ke kertas saring/kertas tisu.
    4. Masukkan pipet yang berisi darah ke dalam tabung hemoglobin, sampai ujung pipet menempel pada dasar tabung, kemudian tiup pelan-pelan. Usahakan agar tidak timbul gelembung udara. Bilas sisa darah yang menempel pada dinding pipet dengan cara menghisap HCl dan meniupnya lagi sebanyak 3-4 kali
    5. Campur sampai rata dan diamkan selama kurang lebih 10 menit.
    6. Masukkan ke dalam alat pembanding, encerkan dengan aquadest tetes demi tetes sampai warna larutan (setelah diaduk sampai homogen) sama dengan warna gelas dari alat pembanding. Bila sudah sama, baca kadar hemoglobin pada skala tabung.
Prosedur pemeriksaan dengan metode sian-methemoglobin
  • Reagnesia :
    1. Larutan kalium ferrosianida (K3Fe(CN)6 0.6 mmol/l
    2. Larutan kalium sianida (KCN) 1.0 mmol/l Universitas Sumatera Utara
  • Alat/sarana :
    1. Pipet darah
    2. Tabung cuvet
    3. Kolorimeter
  • Prosedur kerja :
    1. Masukkan campuran reagen sebanyak 5 ml ke dalam cuvet
    2. Ambil darah kapiler seperti pada metode sahli sebanyak 0,02 ml dan masukkan ke dalam cuvet diatas, kocok dan diamkan selama 3 menit
    3. Baca dengan kolorimeter pada lambda 546
  • Perhitungan :
    1. Kadar Hb = absorbs x 36,8 gr/dl/100 ml
    2. Kadar Hb = absorbs x 22,8 mmol/l

Pengertian Produktivitas

Produktivitas
Produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang-barang dan jasa) dengan masuknya yang sebenarnya. Produktivitas adalah ukuran efisiensi produktif. Suatu perbandingan antara hasil keluaran (output) dan masukan (input). Masukan sering dibatasi dengan masukan tenaga kerja, sedangkan keluaran diukur dalam kesatuan fisik bentuk dan nilai (Muchdarsyah, 2008).

Menurut L. Greenberg, produktivitas sebagai perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tersebut. Produktivitas juga diartikan sebagai (Muchdarsyah, 2008)
a. Perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil
b. Perbedaan antara kumpulan jumlah pengeluaran dan masukan yang dinyatakan dalam satu-satuan (unit) umum.

Produktivitas adalah suatu konsep yang bersifat universal yang bertujuan untuk menyediakan lebih banyak barang dan jasa untuk lebih banyak manusia, dengan menggunakan sumber-sumber riil yang makin sedikit (Konferensi Oslo dalam Muchdarsyah, 2008).

Menurut Kussrianto, produktivitas adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja di sini adalah penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien (Sutrisno, 2009). Menurut Aigner, bahwa filsafat mengenai produktivitas sudah ada sejak awal peradaban manusia, karena makna produktivitas adalah keinginan untuk dan upaya manusia untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan dan penghidupan di segala bidang. Dengan kata lain filsafat produktivitas adalah keinginan manusia untuk  membuat hari ini lebih baik dari hari kemarin dan membuat hari esok lebih baik dari hari ini (Sutrisno, 2009).

Produktivitas secara umum diartikan sebagai hubungan antara keluaran (barang dan jasa) dengan masukan (tenaga kerja, bahan, uang). Produktivitas adalah ukuran efisiensi produktif. Suatu perbandingan antara hasil keluaran dan masukan. Masukan sering dibatasi dengan tenaga kerja, sedangkan keluaran diukur dalam kesatuan fisik, bentuk dan nilai (Sutrisno, 2009).

Menurut Webster, memberikan batasan tentang produktivitas yaitu (Sutrisno, 2009) :
a. Keseluruhan fisik dibagi unit dari usaha produksi
b. Tingkat keefektifan dari manajer industri di dalam penggunaan aktivitas untuk produksi
c. Keefektifan dalam menggunakan tenaga kerja dan peralatan.
Menurut dewan produktivitas Nasional RI, secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan atau rasio antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (Oppusungu, 2009).
Menurut Suprihanto, produktivitas diartikan sebagai kemampuan seperangkat sumber-sumber ekonomi untuk menghasilkan sesuatu atau diartikan juga sebagai perbandingan antara pengorbanan (input) dengan penghasilan (output) (Pajar, 2008).

Menurut Simanjuntak, produktivitas mengandung pengertian filosofis, definisi kerja, dan teknis operasional. Secara filosofis, produktivitasmengandung pengertian pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan (Pajar, 2008).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja
Menurut Putra, produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari tenaga kerja itu sendiri maupun yang berasal dari lingkungan perusahaan. Faktor tersebut antara lain (Elviana, 2001) :
  1. Gizi dan Kesehatan
    Bagi manusia dalam bekerja, zat gizi seperti karbohidrat, protein dan lemak berperan sebagai sumber tenaga dan vitamin, mineral dan zat besi berperan sebagai pelindung. Aktivitas yang boleh dilakukan manusia adalah sangat dipengaruhi zat gizi yang dikonsumsinya serta kesehatannya. Gizi yang cukup dan badan yang sehat merupakan syarat bagi produktivitas kerja yang tinggi. Bagi pekerja fisik yang berat, gizi dengan kalori yang memadai menjadi syarat utama yang menentukan produktivitas kerja. Antara kesehatan, ketahan fisik dan produktivitas kerja terdapat korelasi yang sangat nyata. Universitas Sumatera Utara
  2. Pendidikan dan Pelatihan
    Kemampuan seseorang untuk bekerja berawal dari pendidikan dan pelatihan yang dialaminya. Pendidikan dan pelatihan yang ditambah dengan praktek yang terus menerus akan menambah kecakapan seseorang, pekerjaannya akan semakin bermutu dan cepat selesai, dengan kata lain produktivitas meningkat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi memberi peluang penghasilan yang lebih tinggi serta produktivitas yang lebih tinggi. Hal ini terbukti dari tingginya rata-rata pendidikan di negara maju dan produktivitas yang tinggi. 
  3. Penghasilan dan Jaminan Sosial
    Upah yang dapat diartikan sebagai imbalan yang diterima tenaga kerja dalam hubungan kerja berupa uang. Imbalan yang diperuntukkan bagi pemenuhan sebagian besar kebutuhan dirinya beserta keluarganya. Upah yang minimal hanya untuk memenuhi tingkat hidup yang minimal. Pada tingkat upah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan yang layak, produktivitas kerja memperoleh peluang untuk meningkat.
  4. Kesempatan
    Kesempatan yang terbuka untuk seseorang untuk berbuat yang lebih baik, kreatif dan inovatif juga merupakan persyaratan untuk perbaikan produktivitas kerja. Kesempatan dalam hal ini sekaligus mencakup kesempatan kerja, yaitu pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan ketrampilan serta minat dan kesemapatan untuk berprestasi serta mengembangkan potensi diri. Universitas Sumatera Utara
  5. Manajemen
    Produktivitas kerja juga dipengaruhi oleh manajemen dari kepemimpinan organisasi perusahaan. Faktor manajerial ini berpengaruh pada semangat kerja tenaga kerja melalui gaya kepemimpinan, kebijaksanaan dan peraturan-peraturan perusahaan.
  6. Kebijakan Pemerintah
    Upaya perbaikan produktivitas dapat didorong oleh kebijakan penanaman modal, investasi, teknologi, ketatalaksanaan, moneter dan perkreditan serta dorongan eksport yang menciptakan iklim berusaha yang merangsang perbaikan produktivitas.

Pencegahan Anemia

Pencegahan Anemia
Sejauh ini ada empat pendekatan dasar pencegahan anemia defisiensi besi, yaitu (Arisman, 2008)
  1. Pemberian tablet atau suntikan zat besi Pemberian tablet tambah darah pada pekerja atau lama suplementasi selama 3- 4 bulan untuk meningkatkan kadar hemoglobin, karena kehidupan sel darah merah hanya sekitar 3 bulan atau kehidupan eritrosit hanya berlangsung selama 120 hari, maka 1/20 sel eritrosit harus diganti setiap hari atau tubuh memerlukan 20 mg zat besi perhari. Tubuh tidak dapat menyerap zat besi (Fe) dari makanan sebanyak itu setiap hari, maka suplementasi zat besi tablet tambah darah sangat penting dilakukan. Suplementasi dijalankan dengan memberikan zat gizi yang dapat menolong untuk mengoreksi keadaan anemia gizi. Karena menurut hasil penelitian anemia gizi di Indonesia sebagian besar disebabkan karena kekurangan zat besi.
  2. Pendidikan dan upaya yang ada kaitannya dengan peningkatan asupan zat besi melalui makanan Konsumsi tablet zat besi dapat menimbulkan efek samping yang mengganggu sehingga orang cenderung menolak tablet yang diberikan. Agar mengerti, harus diberikan pendidikan yang tepat misalnya tentang bahaya yang mungkin terjadi akibat anemia, dan harus pula diyakinkan bahwa salah satu penyebab anemia adalah defisiensi zat besi. Asupan zat besi dari makanan dapat ditingkatkan melalui dua cara :
    a. Pemastian konsumsi makanan yang cukup mengandung kalori sebesar yang semestinya dikonsumsi.
    b. Meningkatkan ketersediaan hayati zat besi yang dimakan, yaitu dengan jalan mempromosikan makanan yang dapat memacu dan menghindarkan pangan yang bisa mereduksi penyerapan zat besi.
  3. Pengawasan penyakit infeksi Pengobatan yang efektif dan tepat waktu dapat mengurangi dampak gizi yang tidak diingini. Meskipun, jumlah episode penyakit tidak berhasil dikurangi, pelayanan pengobatan yang tepat telah terbukti dapat menyusutkan lama serta beratnya infeksi. Tindakan yang penting sekali dilakukan selama penyakit berlangsung adalah mendidik keluarga penderita tentang cara makan yang sehat selama dan sesudah sakit. Pengawasan penyakit infeksi memerlukan upaya kesehatan seperti penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan. Jika terjadi infeksi parasit, tidak bisa disangkal lagi, bahwa cacing tambang (Ancylostoma dan Necator) serta Schistosoma yang menjadi penyebabnya. Sementara peran parasit usus yang lain terbukti sangat kecil. Ada banyak bukti tertulis, bahwa parasit parasit dalam jumlah besar dapat menggaggu penyerapan berbagai zat gizi. Karena itu, parasit harus dimusnahkan secara rutin. Bagaimanapun juga, jika pemusnahan parasit usus tidak dibarengi dengan langkah pelenyapan sumber infeksi, reinfeksi dapat terjadi sehingga memerlukan obat lebih banyak. Pemusnahan cacing itu sendiri dapat efektif dalam hal menurunkan parasit, tetapi manfaatnya di tingkat hemoglobin sangat sedikit. Jika asupan zat besi bertambah, baik melalui pemberian suplementasi maupun fortifikasi makanan, kadar hemoglobin akan bertambah meskipun parasitnya sendiri belum tereliminasi.
  4. Fortifikasi makanan pokok dengan zat besi Fortifikasi makanan yang banyak dikonsumsi dan yang diproses secara terpusat merupakan inti pengawasan anemia di berbagai negara. Fortifikasi makanan merupakan salah satu cara terampuh dalam pencegahan defisiensi zat besi. Di negara industri, produk makana fortifikasi yang lazim adalah tepung gandum serta roti makanan yang terbuat dari jagung dan bubur jagung. Di negara sedang berkembang lain telah dipertimbangkan untuk memfortifikasi garam, gula, beras dan saus ikan.

Tanda-tanda dan Gejala Anemia

Tanda dan Gejala Anemia
Tanda dan gejala anemia biasanya tidak khas dan sering tidak jelas, seperti pucat, mudah lelah, berdebar dan sesak napas. Kepucatan bisa diperiksa pada telapak tangan, kuku dan konjungtiva palbera. Tanda yang khas meliputi anemia, angular stomatitis, glositis, disfagia, hipokloridia, koilonikia dan pafofagia. Tanda yang kurang khas berupa kelelahan, anoreksia, kepekaan terhadap infeksi meningkat, kelainan perilaku tertentu, kinerja intelektual serta kemampuan kerja menurun (Arisman, 2008).

Gejala awal anemia zat besi berupa badan lemah, lelah, kurang energi, kurang nafsu makan, daya konsentrasi menurun, sakit kepala, mudah terinfeksi penyakit, stamina tubuh menurun, dan pandangan berkunang-kunang – terutama bila bangkit dari duduk. Selain itu, wajah, selaput lendir kelopak mata, bibir, dan kuku penderita tampak pucat. Kalau anemia sangat berat, dapat berakibat penderita sesak napas bahkan lemah jantung (Zarianis, 2006).

Gejala-gejala yang disebabkan oleh pasokan oksigen yang tidak mencukupi kebutuhan ini, bervariasi. Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang. Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung. Gejala lemah, letih, lesu, lelah, lunglai atau yang biasa disebut 5L juga merupakan salah satu gejala Anemia. Gejala yang lain adalah mata berkunang-kunang, berkurangnya daya konsentrasi dan menurunnya daya tahan tubuh (Wikipedia, 2007).

Gejala awal anemia kurang zat besi adalah keluhan badan lemah, lelah, kurang energi, kurang nafsu makan, daya konsentrasi menurun, sakit kepala, pandangan sering berkunang-kunang terutama dari keadaan duduk kemudian berdiri. Tanda lainnya adalah kelopak mata, wajah, ujung jari dan bibir biasanya tampak pucat (Syafitri, 2008) .

3 hal penyebab Anemia

Penyebab Anemia
Ada tiga penyebab anemia defisiensi zat besi, yaitu : (Arisman, 2008)
  1. Kehilangan darah secara kronis
    Pada pria dewasa, sebagian besar kehilangan darah disebabkan oleh proses perdarahan akibat penyakit atau akibat pengobatan suatu penyakit. Sementara pada wanita, terjadi kehilangan darah secara alamiah setiap bulan. Jika darah yang keluar selama haid sangat banyak akan terjadi anemia defisiensi zat besi. Selain itu, kehilangan zat besi dapat pula diakibatkan oleh infestasi parasit, seperti cacing tambang, schistosoma dan trichuris trichiura. Hal ini sering terjadi di negara tropis, lembab dan keadaan sanitasi yang buruk. Darah yang hilang akibat infestasi cacing tambang bervariasi antara 2-100 cc/hari, tergantung pada beratnya infestasi. Jika jumlah zat besi dihitung berdasarkan banyaknya telur cacing yang terdapat dalam tinja, jumlah zat besi yang hilang per seribu adalah sekitar 0,8 mg untuk necator americanus sampai 1,2 mg untuk ancylostoma duodenale.
  2.  Asupan dan serapan tidak adekuat
    Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah bahan makanan yang berasal dari daging hewan. Selain banyak mengandung zat besi, serapan zat besi dari sumber makanan tersebut mempunyai angka keterserapan sebesar 20-30%. Sebagian besar penduduk di negara yang sedang berkembang tidak mampu menghadirkan bahan makanan tersebut. Kebiasaan konsumsi makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi seperti kopi dan teh secara bersamaan pada waktu makan menyebabkan serapan zat besi semakin rendah. Universitas Sumatera Utara
  3. Peningkatan kebutuhan
    Asupan zat besi harian diperlukan untuk mengganti zat besi yang hilang melalui tinja, air seni dan kulit. Berdasarkan jenis kelamin, kehilangan zat besi untuk pria dewasa mendekati 0,9 mg dan 0,8 untuk wanita. Sebagian peningkatan ini dapat terpenuhi dari cadangan zat besi, serta peningkatan adaptif jumlah persentase zat besi yang terserap melalui saluran cerna. Namun, jika cadangan zat besi sangat sedikit sedangkan kandungan dan serapan zat besi dalam dan dari makanan sedikit, pemberian suplementasi pada masa-masa ini menjadi sangat penting.

Pengertian Anemia menurut para Ahli

Anemia
Anemia merupakan keadaan menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah sel darah merah di bawah nilai normal yang dipatok untuk perorangan (Arisman, 2008). Anemia sebagai keadaan dimana level hemoglobin rendah karena kondisi patologis. Defisiensi Fe merupakan salah satu penyebab anemia, tetapi bukanlah satu-satunya penyebab anemia (Fatmah dalam FKM UI, 2007).

Menurut Nursalam, Anemia adalah berkurangnya kadar eritrosit (sel darah merah) dan kadar hemoglobin (Hb) dalam setiap milimeter kubik darah dalam tubuh manusia. Hampir semua gangguan pada sistem peredaran darah disertai dengan anemia yang ditandai dengan warna kepucatan pada tubuh, penurunan kerja fisik, penurunan daya tahan tubuh. Penyebab anemia bermacam-macam diantaranya adalah anemia defisiensi zat besi (Murgiyanta, 2006).

Menurut Wirakusumah, anemia adalah suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit dibawah normal. Pada pendertita anemia lebih sering disebut kurang darah, kadar sel darah merah atau hemoglobin dibawah normal. Penyebabnya bisa karena kekurangan zat besi, asam folat dan vitamin B12. Tetapi yang sering terjadi adalah anemia yang disebabkan karena kekurangan zat besi. Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi untuk eritropoesis tidak cukup, yang ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum dan jenuh transferin menurun, kapasitas ikat besi total meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta ditempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali (Oppusungu, 2009).

Menurut Soekirman, anemia gizi besi adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan cadangan besi dalam hati, sehingga jumlah hemoglobin darah menurun dibawah normal. Sebelum terjadi anemia gizi besi, diawali lebih dulu dengan keadaan kurang gizi besi (KGB). Apabila cadangan besi dalam hati menurun tetapi belum parah, dan jumlah hemoglobin masih normal, maka seseorang dikatakan mengalami kurang gizi besi saja (tidak disertai anemia gizi besi). Keadaan kurang gizi besi yang berlanjut dan semakin parah akan mengakibatkan anemia gizi besi, dimana tubuh tidak lagi mempunyai cukup zat besi untuk membentuk hemoglobin yang diperlukan dalam sel-sel darah yang baru (Wulansari, 2006).

Faktor-Faktor Mempengaruhi Kadar Hemoglobin

Faktor-Faktor Mempengaruhi Kadar Hemoglobin
Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin adalah :
  1. Kecukupan Besi dalam Tubuh
    Menurut Parakkasi, Besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin, sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke Universitas Sumatera Utara jaringan tubuh, untuk dieksresikan ke dalam udara pernafasan, sitokrom, dan komponen lain pada sistem enzim pernafasan seperti sitokrom oksidase, katalase, dan peroksidase. Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. Kandungan ± 0,004 % berat tubuh (60-70%) terdapat dalam hemoglobin yang disimpan sebagai ferritin di dalam hati, hemosiderin di dalam limpa dan sumsum tulang (Zarianis, 2006). Kurang lebih 4% besi di dalam tubuh berada sebagai mioglobin dan senyawa-senyawa besi sebagai enzim oksidatif seperti sitokrom dan flavoprotein. Walaupun jumlahnya sangat kecil namun mempunyai peranan yang sangat penting. Mioglobin ikut dalam transportasi oksigen menerobos sel-sel membran masuk kedalam sel-sel otot. Sitokrom, flavoprotein, dan senyawa-senyawa mitokondria yang mengandung besi lainnya, memegang peranan penting dalam proses oksidasi menghasilkan Adenosin Tri Phosphat (ATP) yang merupakan molekul berenergi tinggi. Sehingga apabila tubuh mengalami anemia gizi besi maka terjadi penurunan kemampuan bekerja. Pada anak sekolah berdampak pada peningkatan absen sekolah dan penurunan prestasi belajar (WHO dalam Zarianis, 2006). Menurut Kartono J dan Soekatri M, Kecukupan besi yang direkomendasikan adalah jumlah minimum besi yang berasal dari makanan yang dapat menyediakan cukup besi untuk setiap individu yang sehat pada 95% populasi, sehingga dapat terhindar kemungkinan anemia kekurangan besi (Zarianis, 2006).
  2. Metabolisme Besi dalam Tubuh
    Menurut Wirakusumah, Besi yang terdapat di dalam tubuh orang dewasa sehat berjumlah lebih dari 4 gram. Besi tersebut berada di dalam sel-sel darah merah atau hemoglobin (lebih dari 2,5 g), myoglobin (150 mg), phorphyrin cytochrome, hati, limpa sumsum tulang (> 200-1500 mg). Ada dua bagian besi dalam tubuh, yaitu bagian fungsional yang dipakai untuk keperluan metabolik dan bagian yang merupakan cadangan. Hemoglobin, mioglobin, sitokrom, serta enzim hem dan nonhem adalah bentuk besi fungsional dan berjumlah antara 25-55 mg/kg berat badan. Sedangkan besi cadangan apabila dibutuhkan untuk fungsi-fungsi fisiologis dan jumlahnya 5-25 mg/kg berat badan. Ferritin dan hemosiderin adalah bentuk besi cadangan yang biasanya terdapat dalam hati, limpa dan sumsum tulang. Metabolisme besi dalam tubuh terdiri dari proses absorpsi, pengangkutan, pemanfaatan, penyimpanan dan pengeluaran (Zarianis, 2006).

Fungsi /Guna Hemoglobin (Hb) dan Struktur Hemoglobin (Hb)

Guna Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin di dalam darah membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa kembali karbondioksida dari seluruh sel ke paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh. Mioglobin berperan sebagai reservoir oksigen : menerima, menyimpan dan melepas oksigen di dalam sel-sel otot. Sebanyak kurang lebih 80% besi tubuh berada di dalam hemoglobin (Sunita, 2001).
Menurut Depkes RI adapun guna hemoglobin antara lain :
  1. Mengatur pertukaran oksigen dengan karbondioksida di dalam jaringan-jaringan tubuh.
  2. Mengambil oksigen dari paru-paru kemudian dibawa ke seluruh jaringan-jaringan tubuh untuk dipakai sebagai bahan bakar.
  3. Membawa karbondioksida dari jaringan-jaringan tubuh sebagai hasil metabolisme ke paru-paru untuk di buang, untuk mengetahui apakah seseorang itu kekurangan darah atau tidak, dapat diketahui dengan pengukuran kadar hemoglobin. Penurunan kadar hemoglobin dari normal berarti kekurangan darah yang disebut anemia (Widayanti, 2008).
Struktur Hemoglobin (Hb)
Pada pusat molekul terdiri dari cincin heterosiklik yang dikenal dengan porfirin yang menahan satu atom besi, atom besi ini merupakan situs/lokal ikatan oksigen. Porfirin yang mengandung besi disebut heme. Nama hemoglobin merupakan gabungan dari heme dan globin, globin sebagai istilah generik untuk protein globular. Ada beberapa protein mengandung heme dan hemoglobin adalah yang paling dikenal dan banyak dipelajari.
Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 submit protein), yang terdiri dari dari masing-masing dua sub unit alfa dan beta yang terikat secara non kovalen. Sub unitnya mirip secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap sub unit memiliki berat molekul kurang lebih 16.000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya menjadi 64.000 Dalton. Tiap sub unit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga secara keseluruhan hemoglobin memiliki kapasitas empat molekul oksigen (Wikipedia, 2007).

Kadar Hemoglobin (Hb) dalam tubuh manusia

Kadar Hemoglobin (Hb)
Kadar hemoglobin ialah ukuran pigmenrespiratorik dalam butiran-butiran darah merah (Costill, 1998). Jumlah hemoglobin dalam darah normal adalah kira-kira 15 gram setiap 100 ml darah dan jumlah ini biasanya disebut “100 persen” (Evelyn, 2009). Batas normal nilai hemoglobin untuk seseorang sukar ditentukan karena kadar hemoglobin bervariasi diantara setiap suku bangsa. Namun WHO telah menetapkan batas kadar hemoglobin normal berdasarkan umur dan jenis kelamin (WHO dalam Arisman, 2002).

Tabel 2.1.1 Batas Kadar Hemoglobin
Batas Nilai Hemoglobin (gr/dl)
Anak 6 bulan - 6 tahun                                  11,0
Anak 6 tahun - 14 tahun                                12,0
Pria dewasa                                                  13,0
Ibu hamil                                                       11,0
Wanita dewasa                                             12,0
Sumber : WHO dalam arisman 2002

                             Tabel 2.1.2 Batas Normal Kadar Hemoglobin Setiap kelompok Umur
Anak                                                      
1. 6 bulan sampai 6 tahun                           : 11
2. 6-14 tahun                                             : 12
Dewasa
1. Laki-laki                                                : 13
2. Wanita                                                   : 12
3. Wanita hamil                                          : 11
Sumber : Depkes RI, 1999 (Zarianis, 2006)

Pengertian Hemoglobin (Hb) menurut para ahli

Pengertian Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah metalprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi (Wikipedia, 2007).

Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan (Evelyn, 2009).

Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah.
Hemoglobin adalah kompleks protein-pigmen yang mengandung zat besi. Kompleks tersebut berwarna merah dan terdapat didalam eritrosit. Sebuah molekul hemoglobin memiliki empat gugus haeme yang mengandung besi fero dan empat rantai globin (Brooker, 2001).

Hemoglobin adalah suatu senyawa protein dengan Fe yang dinamakan conjugated protein. Sebagai intinya Fe dan dengan rangka protoperphyrin dan globin (tetra phirin) menyebabkan warna darah merah karena Fe ini.Eryt Hb berikatan dengan karbondioksida menjadi karboxy hemoglobin dan warnanya merah tua. Darah arteri mengandung oksigen dan darah vena mengandung karbondioksida (Depkes RI dalam Widayanti, 2008).

Menurut William, Hemoglobin adalah suatu molekul yang berbentuk bulat yang terdiri dari 4 subunit. Setiap subunit mengandung satu bagian heme yang berkonjugasi dengan suatu polipeptida. Heme adalah suatu derivat porfirin yang mengandung besi. Polipeptida itu secara kolektif disebut sebagai bagian globin dari molekul hemoglobin (Shinta, 2005).

Pengertian ASI dan manfaat ASI

 Pengertian ASI
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik dan alamiah untuk bayi. Menyusui merupakan suatu proses alamiah, namun sering ibu-ibu tidak berhasil menyusui atau menghentikan menyusui lebih dini sebelum usia enam bulan. Oleh karena itu ibu-ibu memerlukan bantuan agar proses menyusui ASI Eksklusif berhasil. Banyak alasan yang dikemukan ibu-ibu antara lain, ibu merasa bahwa ASInya tidak cukup, ASI tidak keluar pada hari-hari pertama kelahiran bayi. Sesungguhnya hal itu tidak disebabkan karena ibu tidak percaya diri bahwa ASInya cukup untuk bayinya. Informasi tentang cara-cara menyusui yang baik dan benar, pemberian ASI Eksklusif belum menjangkau sebagian besar ibu-ibu (Depkes RI, 2005).

Manfaat ASI
Manfaat ASI (Air Susu Ibu), merupakan gizi terbaik bagi bayi karena komposisi zat-zat gizi di dalamnya secara optimal mampu menjamin pertumbuhan tubuh bayi. Selain itu, kualitas zat gizi ASI juga terbaik karena mudah diserap dan dicerna oleh usus bayi. Kandungan protein ASI (0,9 mg / 100 ml) lebih rendah dibanding dengan kadar protein dalam susu formula (1,6 gram/100 ml). Namun, kualitas protein ASI sangat tinggi dan mengandung asam-asam amino esensial yang dibutuhkan oleh pencernaan bayi (Widjaya, 2004).

komposisi ASI dari hari ke hari

Komposisi ASI dari Hari ke hari
Menurut Roesli (2001), komposisi ASI dari hari ke hari, yaitu :
1. Kolostrum (susu jolong)
  • - Merupakan cairan pertama yang keluar dari kelanjar payudara, dan keluar pada hari ke satu sampai hari ke empat dan ketujuh.
  • - Komposisinya selalu berubah dari hari ke hari.
  • - Merupakan cairan kental dengan warna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan susu matur.
  • - Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang.
  • - Lebih banyak mengandung protein, sedangkan kadar karbohidrat dan lemaknya lebih rendah dibandingkan ASI matur.
  • - Mengandung zat anti infeksi sepuluh sampai tujuh belas kali lebih banyak dari ASI matur.
  • - Volume ASI 150-300 ml/24 jam.
2. ASI Transisi (Peralihan) adalah :
  • - ASI yang diproduksi pada hari keempat sampai ke tujuh, sampai hari ke sepuluh dan empat belas.
  • - Kadar protein berkurang, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak meningkat.
  • - Volume semakin meningkat
3. ASI Mature adalah :
  • - Merupakan ASI yang diproduksi sejak hari keempat belas dan seterusnya.
  • - Komposisi ASI relatif konstan
Pada ibu yang sehat dan memiliki jumlah ASI yang cukup, ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik bagi bayi sampai umur enam bulan.

Cara Menyusui bayi

Cara Menyusui
Cara menyusui, yaitu : ibu harus bergantian diantara dua payudara. Namun, satu payudara harus disusukan sampai dianggap habis ASI nya, kemudian kepayudara yang lain. Bila payudara pertama yang disusui masih ada, hendaknya dikeluarkan dengan memasase payudara ke arah puting susu sampai payudara tidak mengeluarkan ASI lagi. Hal ini akan memperlancar pengeluaran ASI berikutnya dan pengeluaran berikut akan lebih banyak. Demikian halnya dengan payudara kedua. Bila terdapat sisa sedikit harus segera dilakukan labih dulu, tetapi bila masih banyak biarkan saja dan untuk menyusui berikutnya dimulai pada payudara yang mengandung sisa ASI sebelumnya (Purwanti, 2004). Dengan metode ini ASI akan tetap bertahan dan berproduksi. Teknik ini terutama penting bagi ibu yang bekerja. Pada masa cuti melahirkan ibu harus segera mengosongkan payudara setiap kali sehabis menyusui. Dengan demikian ASI akan keluar lebih banyak, ASI dapat disimpan dalam suhu ruang sampai 8 jam dan di dalam lemari pendingin selama 24 jam (Purwanti, 2004).

Penyimpanan ASI oleh ibu memungkinkan pemberian ASI selama ibu pergi bekerja atau bepergian. Cara pemberiannya dengan menghangatkan ASI dalam botol atau wadah yang direndamkan ke dalam air hangat (suhu kurang lebih 500C). Hindari menggunakan air panas atau merebus agar berbagai jenis nutrisi, sel-sel hidup, maupun faktor-faktor yang ada di ASI tidak rusak (Purwanti, 2004). Selama ibu bekerja, upayakan ada waktu tertentu untuk mengeluarkan ASI secara teratur (minimal 2 jam sekali ASI dikeluarkan) dan ASI dapat ditampung dengan botol yang bersih yang kemudian dapat diberikan kepada bayinya ketika pulang ke rumah. Dengan upaya seperti ini banyak manfaat yang diperoleh ibu dan bayi. Keuntungan bagi bayi adalah pertumbuhan bayi dapat optimal, bayi terhindar dari alergi, mempererat hubungan anak dan ibu. Keuntungan bagi ibu adalah mempercepat proses involusio uteri, memperkecil risiko terkena kanker payudara dan ibu akan mempunyai nafsu makan yang stabil. Keuntungan bagi keluarga adalah penghematan pada aspek ekonomi, karena mereka tidak perlu membeli susu buatan (Purwanti, 2004). Menyusu memungkinkan rahang bayi yang masih dalam proses perkembangan terbentuk menjadi lebih baik. Proses pembentukan ini dipengaruhi oleh kalsium ASI yang cukup dan sesuai kebutuhan sehingga dapat langsung di metabolisme oleh sistem pencernaan bayi untuk pembentukan jaringan sel tulang rahang dan tulang lainnya. Pada proses pembentukan rahang, ASI memberi peran khusus secara tidak langsung, yaitu pada saat aktif mengisap, bayi telah melakukan gerakan mulut yang teratur dan kontinu. Proses ini membantu pemadatan sel-sel tulang rahang. Berbeda dengan bayi yang menyusu botol, bayi sering bersifat pasif dalam mengisap karena bergantung pada tetesan susu botol yang dapat keluar tanpa harus diisap (Purwanti, 2004).

Tekan kedua payudara ketika bersentuhan dengan pipi bayi seolah merupakan kompresor yang menekan rahang ke arah dalam mulut bayi. Berbeda dengan dot yang lebih keras dari puting susu dan areola mamae sehingga dot ini tidak bisa dilipat oleh lidah dan rahang bayi. Upaya bayi untuk mengatasi hal ini adalah dengan memasukkan seluruh panjang dot ke dalam mulut agar bayi dapat menekan dot untuk mendapatkan tetesan susu. Upaya bayi ini berarti memaksa mulut bayi tertarik ke depan. Kondisi ini terus terjadi baik bayi dalam keadaan mengisap maupun menunggu tetesan susu. Aktivitas seperti ini menyebabkan bentuk rahang berubah menjadi lebih maju. Total lamanya menyusu yang tepat perhari kurang lebih enam jam. Oleh karena itu, selama enam jam dalam satu hari, rahang diproses oleh payudara dan upaya isapan bayi. Keadaan ini menyebabkan rahang bayi terbentuk lebih baik ke dalam sehingga bentuk rahang bayi dengan ASI, rata-rata menjadi lebih cantik atau tampan (Purwanti, 2004).

Pengertian Menyusui dan tindakan menyusui

Pengertian Menyusui
Menyusui adalah suatu cara yang tidak ada duanya dalam memberikan makanan yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat serta mempunyai pengaruh biologis dan kejiwaan yang unik terhadap kesehatan ibu dan bayi (WHO/UNICEF, 1994).

Tindakan Menyusui
Menurut Purwanti (2004), kegiatan ibu menyusui meliputi :
  1. Pilih posisi yang paling nyaman untuk menyusui. Siapkan peralatan, seperti kapas, air hangat, handuk kecil yang bersih atau tisu, bantal untuk penompang bayi, selimut kecil.
  2. Baringkan bayi diatas bantal dengan baik, sehingga posisi bayi saling berhadapan dengan ibu. Perut ibu berhadapan dan bersentuhan dengan perut bayi, perhatikan kepala agar tidak terjadi pemuntiran leher dan punggung bayi harus tidak membungkuk.
  3. Mula-mula massase payudara dan keluarkan sedikit ASI untuk membasahi puting susu, tujuannya menjaga kelembapan puting, kemudian oleskan puting susu ibu ke bibir bayi untuk merangsang refleksi hisap bayi.
  4. Topang payudara dengan tangan kiri atau tangan kanan dan empat jari menahan bagian bawah areola mamae sampai bayi membuka mulutnya.
  5. Setelah bayi siap menyusu, masukkan puting susu sampai daerah areola mamae masuk ke mulut bayi. Pastikan bayi menghisap dengan benar dan biarkan bayi bersandar ke arah ibu, jaga agar posisi kepala tidak menggantung, karena kondisi ini akan menyebabkan bayi sulit menyusui dengan benar. Saat menghisap akan sering terlepas karena tidak ada tahanan pada kepala, mulut bayi tidak tertekan pada payudara ibu.
  6. Pertahankan posisi bayi yang tepat dan nyaman, sehingga memungkinkan bayi dapat menghisap dengan benar. ASI keluar dengan lancar dan puting susu ibu tidak lecet. Bila posisi tidak benar dan puting susu ibu lecet akan menjadi pintu masuk kuman yang membahayakan ibu dan bayi.
  7. Susui bayi selama ia mau dan berikan ASI secara bergantian pada kedua payudara, sehingga mempertahankan ASI tetap diproduksi seimbang pada kedua payudara.
  8. Bila menghadapi masalah, segera cari bantuan petugas yang memahami tatalaksana ASI, sehingga segera mendapatkan pemecahannya karena bila produksi ASI mengalami penekanan, produksinya akan segera berhenti dan sulit untuk dirangsang kembali.
  9. Setelah menyusui, bila bayi tidak tidur, sendawakan bayi dengan meletakkan bayi telungkup kemudian punggungnya di tepuk-tepuk secara perlahan atau bayi ditidurkan telungkup di pangkuan dan tepuk punggung bayi.

Pengertian Kolostrum dan manfaat Kolostrum

Pengertian Kolostrum
Kolostrum (susu awal) adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama setelah kelahiran bayi, berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental, karena mengandung banyak vitamin A, protein dan zat kekebalan yang penting untuk melindungi bayi dari penyakit infeksi. Kolostrum juga mengandung vitamin A, E dan K serta beberapa mineral seperti natrium dan Zn (Depkes RI, 2005).

Manfaat Kolostrum
Menurut Depkes RI (2005), manfaat kolostrum adalah :
  1. Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama (IgA) untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi khususnya diare.
  2. Kolostrum mengandung protein, vitamin A yang tinggi, karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama setelah kelahiran.
  3. Jumlah kolostrum yang diproduksi, bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran, walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu, harus diberikan kepada bayi.
  4. Kolostrum membantu pengeluaran mekonium, yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan.

Kamis, 02 Agustus 2012

Makanan formula untuk olahragawan

Makanan formula untuk olahragawan  Olahraga semata-mata dimaksudkan untuk menjaga kesehatan tubuh. Tetapi, kini melalui aktivitas itu banyak orang berharap bukan hanya sehat, melainkan juga dapat tetap bugar sepanjang setiap hari.  Untuk mencapai harapan tersebut harus diikuti dengan olahraga secara benar, baik kualitas, kuantitas maupun dietnya. Sebab jika tidak, olahraga tidak memicu terbentuknya radikal-radikalbebas yang beracun dan pada giliranya akan menyebabkan krusakan aksidatifpada otot, hati, jantung, dan jaringan lainnya.  Setidiknya sampai terdapat tiga hal pokok yang terjadi ketika berolahraga, yaitu berkurangnya air dan cairan tubuh, penggunaan sumber energy tubuh dan konsumsi oksigen.
  • Kehilangan air dan cairan tubuh
    Air di dalam tubuh, selain sebagai media, tempat berlangsungnya berbagai reaksi biokimia, juga sebagai termoregulator, yaitu menjaga dan mangontrol suhu tubuh. Sewaktu berolahraga, kita akan kehilangan air dan cairan tubuh (elektrolit) melalui keringat. Banyaknya air yang hilang sangat tergantung dari lama dan macam olahraga yang di lakukan. Pada olahraga berat (sternous), kehilanganya dapat mencapai tiga liter per jam. Di samping kehilangan air, olahraga juga menguras cadangan energy tubuh, baik yang berupa glikogen maupun lemak untuk diubah menjadi energy gerak. Hasil dari suatu penilitian di ketahui pada peolahraga yang banyak menyimpan glikogen mula-mula sebanyak 90% atau lebih energy yang diambil dari karbohidarat selanjutnya setelah beberapa jam olahraga 70-80 % energy di ambil dari lemak.  Seperti halnya proses pembakaran lainnya, pembangkitan energy di dalam tubuh pun memerlukan oksigen. Suplai oksigen pada serabut otot selama olahraga dapat meningkat 100-200 kali. Oksigen ini akan terlarut di dalam dan di alirkan keseluruh tubuh, terutama pada bagian-bagian otot yang melakukan gerak. Disinilah oksigen dapat berubah menjadi senyawa oksigen relative yang bercun, jika tubuh tidak cukup memiliki sejumlah anti oksidan.  Dari uraian di atas maka strategi yng dapat di terapkan untuk membuat makanan formula dan minuman bagi peolahraga adalah dapat mengganti kehilangan air, cairan tubuh dan enegi serta dapat menyediakan anti oksidan yang memadai.
  • Penganti Air dan Cairan Tubuh
    Minuman yang cocok untuk peolahraga adalah minuman isotonic. Karena minuman ini di rancang sehingga memiliki tekanan osmotik yang sama dengan tekanan darah manusia. Dengan demikian, begitu minuman di teguk dapaat sekejap terserap oleh tubuh. Sebagai penggati kehilangan air, minuman ini dapat di buat dengan kadar air sampai 98%. Air jug berfungsi sebagai pelepas dahaga dan pelarut nutrien lainnya. Sedangkan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, minuman ini dapat disuplementasi dengan. Cl Na (Natrium klorida/sitrat), P (kalium fosfat), Mg (trimagnesium sitrat) dan Ca ( kalsium laktat), Sebagai minuman isotonic minuman untuk peolahraga harus memiliki sifat-sifat yang secara cepat mengosongkan perut dan tinggi penerapannya di dalam usus. Kedua sifat ini dipengaruhi oleh kadar dan jenis karbohidat/ gula yang digunakan di dalam minuman tersebut. Karena kadar krbohidrat kurang dari 5% tidak cukup memberikan kalori untuk meningkatkan efisiensi olahraga. Demikian halnya jika lebih dari 10% akan mencegah pengosongan perut. Jenis karbohidart, seperti glukosa, sukrosa, dan maltodekstrin relative lebih cepat penerapannya di banding fruktosa. Selain sebagai sumber energy, gula tersebut juga bermanfaat sebagai bahan pemanis.  Vitamin B merupakan Vitamin yang larut dalam air, selain vitamin C. diantara vitamin B yang terlibat dalam produksi energy adalah B1, B2,B6,niasin, dan asam pantotena.peranan vitamin initernyata bertidak sebagai koenzim, senyawa bukan protein juga bukan logam, yang diperlukan enzim untuk menjalankan metabolisme.
  • Penangkal Radikal Bebas
    Manusia memerlukan energy sekitar 2500 kkal dan oksigen yang dikonsumsi, 90-95 % akan diubah menjadi air, sedangkan sisanya dapat berubah menjadi senyawa oksigen relative (SOR).  Dalam jumlah normal SOR bermanfaat bagi, tubuh misalnya untuk membunuh mikroba pathogen dan mengatur pertumbuhan sel. Namun , apabila berlebihan dan pertahanan ati oksidan tubuh kurang memedai, maka akan menyebabkan stress oksidatif atau kerusakan jarinagn-jaringan tubuh. Stress oksidatif sangat mungkin terjadi,terutama pada jaringan otot yang digerakkan selama olahrga. Oleh karena itu, minuman peolahraga sebaiknya di suplementasi dengan antioksidan, seperti vitamin C, E, dan b karoten. Selan mampu menangkal radikal-radikal bebas, senyawa tersebut diketahui mampu menurunkan perodiksidasi lipid. Dengan mengonsumsi minuman tersebut di atas, dihrapkan peolahraga memperoleh keuntungan-keuntungan sebagai berikut: dalam waktu pendek dapat terhindar dari dehidrasi dan kekurangan energy yang berlebihan, sedangkan dalam waktu lama dapat mengoptimalkan metabolisme energy, mencegah kerusakan jaringan akibat stres oksidatif dan dapat menambh vitamin serta mineral untuk menjaga kesehatan tubuh yang optimal. 
Artikel materi tentang Makanan formula untuk olahragawan semoga bermanfaat bagi para pembaca

Senin, 30 Juli 2012

Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Penyebab GAKY
  • Makanan dan air, yang setiap hari digunakan untuk hidup sehat, tidak / ( Kurang) mengandung zat yodim
  • Kebiasaan keluarga yang tidak menggunakan garam beryodium dalam makanannya sehari-hari khususnya keluarga yang berdaerah gondok
  • Pembesaran kelenjar gondok
  • Untuk anak-anak menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan jasmani maupun mental yang bisa menyebabkan keadaan tubuh, yang cebol, dungu, terbelakang atau bodoh
Akibat GAKY
  • Perkembangan kemampuan anak dan tingkat kecerdasan anak terhambat ( IQ- nya rendah )
  • Pertumbuhan jasmani terhambat :
    • Tinggi badam terhambat
    • gangguan pada saraf gerak semua gerakannya sangat lamban. 
    • gangguan pendengaran penderitanya tuli pada gangguan tingkat berat, penderitanya mengalami kretin Penderita mengalami pembesaran kelenjar gondok pada leher, jika Ibu Hamil menderita GAKY kemungkinan dapat menderita Keguguran atau bayinya mati saat melahirkan 
Cara mencegah GAKY Dilakukan melalui iodisasi garam dapur Setiap kali memasak makan keluarga di gunakan garam beryodium
Cara Penanggulangan masalah GAKY Dilakukan melalui pemberian kapsul minyak beryodium pada semua WUS, dan anak sekolah dasar di daerah endemik.

Senin, 16 Juli 2012

faktor yang mempengaruhi mutu ikap asap menurut para ahli

Beberapa komponen penyusun protein (asam amino) dalam bahan pangan mengalami kerusakan selama pengolahan yang mengakibatkan penurunan kandugan protein (Basmal, 1996 dalam Kilay, 1999).
Pengolahan bahan pangan selama pemanasan, merupakan salah satu cara yang penting dikembangkan untuk memperpanjang simpanan bahan pangan. Walupun demikian, pengolahan juga dapat merugikan pada  zat gizi, karena panas dapat mendegradasi kandungan zat. Kerana itu pengolahan dengan cara pemanasan dan menaikan ketersediaan bahan pangan untuk konsumen, namun bahan pangan tersebut kemungkinan mempunyai kadar gizi yang rendah (bila dibandingkan dengan keadaan segar). Lisin sebagai salah satu komponen penyususn protein dapat rusak selama pengolahan  karena senyawa tersebut dapat rusak selama pengolahan karena senyawa tersebut peka terhadap perubahan pH, cahaya panas atau kombinasinya (Finley, 1995 dalam Kilay, 1999). Kadar lisin akan menurun bila suhu pemanasan ditingkatkan, pemanasan yang dilakukan pada suhu 700 C sampai dengan 800 C akan menonaktifkan enzim (Basmal, 1997 dalam Kilay, 1999).
Air merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam mempengaruhi kualitas gizi bahan pangan. Pertumbuhan mikroorganisme tergantung dari ketersediaan air. Aktivitas air (aw) adalah air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroorganisme, bahan pangan (ikan) yang terlalu lama dibiarkan dalam air sebelum pengolahan akan meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang sangat berpengaruh terhadap penurunan kandungan gizi ikan tersebut (Zaeni, 1995 dalam Kilay, 1999).
D. Ikan komu Asap/Asar
Pengasapan adalah salah satu cara memasak, memberi aroma, atau proses pengawetan makanan, terutama daging. Bahan pangan  diasapi dengan panas dan asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu,  dan tidak diletakkan dekat dengan api agar tidak terpanggang atau  terbakar. Pengasapan sudah sejak lama dilakukan oleh nelayan di negara kita (Suryanto, 2009 dalamHimawati, 2010). Ada dua cara pengasapan yaitu  cara tradisional dan cara dingin. Pada cara  tradisional, asap dihasilkan  dari pembakaran kayu atau biomassa lanilla (misalnya sabuk kelapa, serbuk akasia, dan serbuk mangga). Pada cara dingin, bahan direndam di dalam asap yang sudah di cairkan (Himawati, 2010).
Pengasapan ikan dikelompokan menjadi dua jenis yaitu : pengasapan panas dan pengasapan dingin. Proses pengasapan panas jauh lebih cepat, tetapi tidak menjamin ketahanan untuk disimpan lama. Hasil olahan pengasapan panas ikan tetapi tidak keras sebab unsur airnya hanya sebagian yang diserap asap. Suhu pengasapan panas dapat mencapai 600C - 1000C, karena ikan diletakan dekat sumber panas. Pengasapan dingin membutuhkan waktu yang cukup lama, dimana dengan cara yang lambat air pada ikan diserap sedikit demi sedikit. Ukuran suhu pada pengasapan dingin mencapai 300C - 400C, karena ikan diletakan jauh dari sumber asap. Hasil olahan pengasapan dingin ikan menjadi lebih gempal/keras dan tahan disimpan lama (Anonim, 2009).
Pengolahan ikan secara tradisional dilakukan secara umum oleh masyarakat nelayan di sepanjang pantai dan tempat pendaratan ikan. Pada umumnya pengolahan dilakukan secara tradisional dan turun temurun. Pengolahan ikan secara modern seperti pengalengan dan pembekuan sulit untuk dilakukan karena membutuhkan pasokan bahan baku yang bermutu tinggi, jenis dan ukuran yang seragam serta harus tersedia dalarn jumlah yang banyak sesuai dengan kapasitas industri. Selain itu corak perikanan saat ini masih bersifat perikanan rakyat dengan 90% armada perahu motor kecil, jumlah tangkapan yang sedikit, persebaran yang sangat besar (Dirjen Perikanan Tangkap, 2005 dalam Masithoh, 2008).
Ciri khas yang menonjol dari pengolahan tradisional ini adalah jenis dan bahan baku serta bahan pembantu yang sangat bervariasi dan kondisi lingkungan yang sulit dikontrol. Cara, proses dan prosedur selalu berbeda menurut tempat, individu dan keadaan. Juga lebih banyak tergantung kepada faktor alam, perlakuan yang tidak terukur secara kuantitatif sehingga proses tidak dapat diulang dengan hasil yang identik. Akibatnya, produk yang dihasilkan, kualitasnya tidak dapat seragam, jumlah yang didapatkan juga tidak tentu. Kondisi ini mengakibatkan hasil yang diperoleh sulit untuk distandarisasikan. Agar diperoleh produk yang aman dengan mutu yang terjamin, proses pengolahan harus dilakukan secara baku. Standarisasi hendaknya dilakukan mulai dari bahan baku, bahan pembantu, proses pengolahan, sampai lingkungan pengolahan. Kondisi fisik dan bakterial, komposisi kimia, serta kesegaran bahan baku dan bahan pembantu harus diketahui untuk memilih proses pengolahan yang tepat. Melalui standarisasi, konsumen akan mendapatkan produk yang sesuai dan yang setara kualitasnya. Kondisi ini juga akan membuka peluang pengembangan pemasaran produk olahan tradisional. Pemilihan proses pengolahan harus didasarkan pada ciri kerusakan spesifik dan masa simpan yang diinginkan. Hal terpenting dalam standarisasi ialah melakukan proses dengan terukur, antara lain dalam jumlah, bobot, takaran, komposisi, tingkat kesegaran, suhu dan waktu agar (Bulletin P3K, 2004 dalam Masithoh, 2008).